Ajak Warga Membangun Budaya Gotong Royong Peduli Lingkungan Melalui Kebersihan Ala Mahasiswa UMM

Ajak Warga Membangun Budaya Gotong Royong Peduli Lingkungan Melalui Kebersihan Ala Mahasiswa UMM Mahasiswa PMM UMM membaur bersama warga Cemandi membersihkan sampah lingkungan. Foto Ahmad Farhan

Sidoarjo, kabarwarta.id - PMM UMM 44 Gelombang 9 Ajak Warga Gisik Cemandi untuk membangun budaya gotong royong peduli lingkungan PMM Merupakan Program Pengabdian Masyarakat Oleh Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, dimana program universitas ini merupakan pengganti KKN di era Pandemic Covid-19 yang dilaksanakan secara efesian dimana mahasiswa UMM dapat melakukan Pengabdian di Kota asalnya.

Diantara beberapa kelompok PMM yang telah tersebar diseluruh Indonesia, PMM Kelompok 44 Gelombang 9 memilih Desa Gisik Cemandi Kabupaten Sidoarjo menjadi tujuan target lokasi PMM. Adapun anggota PMM UMM Kelompok 44 Gelombang 9 ini diantaranya, Dika Novitasari, Ahmad Farhan, A. Ghozi, Verrel Adji Nugroho, dan Nafisah Rizqillah M. Kelima anggota Pengabdian Masyarakat Oleh Mahasiswa Kelompok 44 Gelombang 9 tersebut merupakan keseluruhan dari jurusan Hubungan Internasional, Universitas Muhammadiyah Malang.

Permasalahan utama Desa Gisik Cemandi ialah masalah sampah, dimana sampah di desa ini menjadi suatu pokok permasalahan utama bagi masyarakat sekitar. Seperti yang kita ketahui Desa Gisik Cemandi adalah desa sentral wisata bahari di Kabupaten Sidoarjo yang juga mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai nelayan.

Hal ini dikarenakan Desa Gisik Cemandi merupakan Desa yang terletak dekat pesisir hal ini tidak jauh berbeda dengan desa-desa nelayan yang terletak di berbagai pesisir dengan mempunyai permasalahan yang melekat dengan sampah. Hal ini dikarenakan adanya faktor-faktor yang membuat mengapa sampah itu sangat identik dengan suatu kawasan pesisir.

Nelayan Desa setempat banyak sekali yang mengeluhkan bahwasannya sering kali kapal nelayan macat ditengah sungai akibat mesin-mesin diganggu oleh sampah, Hal tersebut salah satu penyebabnya ialah meluapnya air laut ketika pasang, seketika sampah-sampah itu datang dari segala arah dan menumpuk di berbagai titik.

Sampah-sampah tersebut juga bukanlah sampah yang dihasilkan oleh suatu desa melainkan dari berbagai desa di sekitarnya. Desa Gisik Cemandi adalah salah satu desa yang mengalami masalah tersebut, ketika air laut mengalami air pasang air luapan itu tadi membawa sampah yang sangat banyak dan menupuk di wilayah Desa Gisik cemandi.

Disamping itu adanya sebagian masyarakat yang sudah pasrah karena masalah sampah yang tidak kunjung selsai, dan alternative sementara membuang dan membakar sampah disepanjang pinggir sungai. Sehingga lama kelamaan titik-titik tersebut menjadi sebuah tumpukan sampah membentuk seperti gunung.

Masyarakat Gisik Cemandi perlu solusi dimana sampah-sampah tersebut seharusnya tidak boleh dibakar secara terus menerus karna tidak bisa terurai dengan baik, disamping itu juga pencemaran udara pasti ada ketika sampah-sampah tersebut dibakar dan tentu yang lebih parahnya sampah-sampah yang tidak terbakar habis dan hanya menjadi tumpukan disana, menimbulkan bau yang sangat tidak sedap bagi masyarakat.

Namun, pada saat kami melakukan program kami lainnya yaitu sosialisasi peduli lingkungan kepada masyarakat, kami menangkap hasil keluh kesah masyarakat, bahwasannya hampir keseluruhan masyarakat disana sadar bahwasannya mereka sangatlah resah dengan sampah-sampah di daerah tersebut akan tetapi mereka juga bingung apa yang harus mereka lakukan untuk mengatasi permasalahan sampah ini agar bisa hilang atau setidaknya meminimalisir kondisi sampah disana.

Terlebih lagi TPST (tempat pembuangan akhir) di desa tersebut belum dioprasionalkan. Akhirnya kami kelompok 44 yang melakukan PMM di desa gisik cemandi memberikan usulan kepada kepala desa disana dan kepada masyarakat untuk melakukan kerja bakti disana. Dan kerja bakti bersama inilah yang menjadi salah satu hal yang di tunggu-tunggu oleh masyarakat disana karena selama ini di desa tersebut sudah sangat lama sekali tidak pernah diadakan kerja bakti.

Hal ini membuat masyarakat tergerak dan sangat antusias mendengar hal tersebut, karena budaya kerja bakti dan gotong royong di desa tersebut sudah mereka tinggalkan sangat lama. 

kami menggandeng pihak DLHK Kabupaten Sidoarjo dan komunitas Peace and Love yaitu komunitas yang bergerak dalam bidang gerakan sosial. Pihak DLHK juga membawa dua truk sampah untuk mengangkut sampah-sampah disana menuju tempat pembuangan sampah akhir di Sidoarjo dan mengeruk tumpukan sampah yang telah dibakar agar tidak membentuk gunung lagi. Kerja bakti pertama di ikuti juga oleh beberapa masyarakat yang sangat antusias untuk bergotong royong agar sampah-sampah disana bisa berkurang baik secara signifikan maupun bertahap. 

Anggota PMM mengadakan kerja bakti untuk kedua kalinya, tidak jauh berbeda dengan kerja bakti pertama kerja bakti kedua ini juga kami berhasil menggandeng pihak DLHK dan juga komunitas peace and love Sidoarjo kembali membantu bergotong royong dengan masyarakat desa gisik cemandi untuk membersihkan sampah-sampah di berbagai titik.

Terlebih lagi dihari ini sangatlah terasa spesial karena masyarakat yang tergerak untuk melakukan kerja bakti bersama lebih banyak dibandingkan hari pertama kerja bakti.

biodata penulis

Nama : ahmad farhan

Alamat : perum bedali indah blok c30 no1. Kec.lawang kab.malang

Email : 27ahmadfarhan1998@gmail.com

Pekerjaan : mahasiswa