Aktifitas Pengendalian Internal Sebagai Kemajuan Bisnis Kecil

Aktifitas Pengendalian Internal Sebagai Kemajuan Bisnis Kecil Aktifitas ekonomi percetakan sablon. Foto Iwan dayat

Malang, kabarwarta.id - Aktifitas pengendalian internal sebagai kemajuan bisnis usaha kecil Menurut Mulyadi (2016), sistem pengendalian internal meliputi struktur organisasi, metode dan ukuran-ukuran yang dikoordinasikan untuk menjaga aset organisasi, mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi, mendorong efisiensi dan mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen.

Tujuan dari sistem pengendalian internal ini antara lain, Meningkatkan efisiensi dan mencegah adanya pemborosan pengelolaan sumber daya perusahaan, memastikan segala anggota perusahaan atau organisasi mengetahui dan mematuhi kebijakan yang telah dibuat serta menjaga aset perusahaan.

Pada kenyataannya sistem pengendalian internal ini kebanyakan hanya diterapkan pada bisnis-bisnis yang tergolong besar, lalu bagaimana jika sistem pengendalian internal ini diterapkan pada usaha kecil? Misalnya, usaha yang dimaksud ada percetakan undangan. Point pertama dalam sistem pengendalian internal adalah Struktur Organisasi yang Memisahkan Tanggung Jawab Fungsional Secara Tegas, ini adalah hal yang sangat utama.

Apabila suatu usaha tidak memiliki struktur organisasi beserta job deskripsi yang jelas dikhawatirkan akan terjadi pergesekan dalam melakukan tugasnya. Maka, setidaknya dalam bisnis kecil seperti percetakan undangan memiliki dua hingga tiga bagian yang bertanggung jawab sendiri-sendiri.

Dalam bisnis percetakan akan dibutuhkan bagian keuangan sebagai pemegang kas usaha, bagian melayani konsumen dan bagian pemeriksa persediaan fisik. Dengan begitu usaha ini telah menerapkan adanya sistem pengendalian internal nomor satu.

Adanya struktur organisasi yang jelas ini, akan mempermudah anggota atau pekerja terfokus pada tugas tertentu. Selanjutnya adalah Sistem Wewenang dan Prosedur yang Memberikan Perlindungan yang Cukup.

Sebelum masuk ke point tersebut hendaknya suatu usaha sudah memenuhi adanya ciri formulir yang baik, seperti terdapat nama formulir dan nama perusahaan, adanya kolom otorisasi dan lain-lain. Nantinya formulir ini akan dipegang oleh bagian yang melayani konsumen. Disarankan dokumen ini berangkap tiga.

Satu akan diberikan pada konsumen yang membutuhkan, satu diberikan kepada bagian keuangan atas bukti terjadinya kas masuk, dan yang terakhir kepada bagian pemeriksa persediaan fisik.

Antara bagian keuangan dan persediaan fisik harus sama-sama membuat laporan atas nota formulir yang dibuat, bagian keuangan merekap bukti kas masuk dan keluar, sedangkan bagian pemeriksa persediaan fisik akan mengecek semua barang baik yang terjual maupun yang dibeli, kemudian pada akhir bulan akan diperiksa apakah terdapat ketidak cocokan.

Apabila terjadi ketidakcocokan maka harus terdapat pemeriksaan berlanjut. Praktik yang Sehat dalam Melaksanakan Tugas dan Fungsi merupakan hal terakhir dalam sistem pengendalian internal.

Praktik yang sehat disini sebagai contoh adalah, apabila terjadi ketidak-cocokan antara perhitungan oleh bagian keuangan dan bagian pemeriksa persediaan dalam usaha percetekan tersebut, sebaiknya dilaporkan sesuai dengan keadaan sebenarnya. Jangan hanya karena bagian yang lain merupakan rekan kerja menjadi pemicu adanya pemalsuan atau penyelewengan dokumen karena sebenarnya kejujuran adalah kunci kemajuan suatu usaha.

Biodata penulis lengkap

Nama : Putri Hanindya Wardhani

Alamat : Jalan Singojoyo Perumahan Singojoyo Kav.10 

Email : phanindya80@gmail.com

Pekerjaan : Mahasiswa