Covid-19 Membuat Pelajar Harus Belajar Dirumah Dengan Internet Dan TVRI

Covid-19 Membuat Pelajar Harus Belajar Dirumah Dengan Internet Dan TVRI Pelajar brlajar menggunakan sarana internet (kiri) dan melihat tayangan di stasiun televisi nasional TVRI. Foto Bestari Dinda Syafitri

Kabarwarta.id - Covid-19 membuat pelajar harus belajar Dirumah dengan Internet dan TVRI

Oleh: Bestari Dinda Syafitri

Sekarang ini, kita sedang dihadapkan dengan wabah virus yang bernama Covid-19. Atau Corona virus disease 2019 yang mulai tersebar di dunia pada akhir tahun 2019, dan mulai masuk di wilayah Indonesia pada bulan maret 2020.

Seperti yang dilakukan oleh banyak negara, untuk mencegah penularan covid-19 di sekolah, Nadiem Makarim (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) menerbitkan surat edaran pada 24 Maret 2020 yaitu, mengatur pelaksanaan pendidikan pada masa darurat penyebaran wabah virus corona di lingkungan sekolah.

Ketidaksiapan sekolah melaksanakan pembelajaran secara online, membuat para guru kebingungan apalagi, guru yang sudah ber umur dan kurang menguasai tekonologi internet. Dampak covid-19 ini juga dirasa sangat memberatkan ibu-ibu yang diharuskan setiap pagi mengajari anaknya untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah, dari guru.

Padahal, pola pikir setiap ibu -ibu berbeda, ada yang memang cerdas karena mungkin berpendidikan tinggi, dan ada juga yang tidak mengerti apa-apa soal anak yang diberikan tugas oleh gurunya, dikarenakan pendidikan ibu yang sangat rendah yaitu, mungkin pendidikan terakhir SMP atau SMA.

Bahkan, di desa pun masih banyak orangtua yang memiliki tingkatan pendidikan rendah, yaitu pendidikan terakhir hanya tamatan Sekolah Dasar. Mungkin hal ini salah satu faktor yang membuat para orangtua terutama ibu-ibu kebingungan dalam mengajari anaknya tentang pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru di sekolahnya.

Jadi, untuk masalah ini, guru yang kurang mahir akan teknologi diharuskan bisa belajar dalam teknologi internet untuk proses sistem belajar para murid -muridnya. Dan, untuk masalah orangtua yang merasa kesulitan membelajari anaknya, sudah ada jalan keluar, melalui program disalah satu stasiun televisi, yakni (TVRI) yang mewajibkan para pelajar mulai dari Paud, sampai SMA belajar melalui program pembelajaran yang ditayangkan di TVRI tersebut.

Hal yang masih dirasa sulit bagi para orangtua akibat dampak covid-19 yang mengakibatkan anaknya harus belajar secara online yaitu., orangtua merasa terbatas dalam hal penguasaan teknologi, keterbatasan sarana dan prasarana internet, jaringan internet yang jelek, apalagi yang tinggal di daerah pedesaaan, dan yang paling utama adalah, masalah biaya.

Masalah yang serupa juga menimpa orangtua yang anaknya melakukan proses belajar melalui TVRI. Ibu-ibu ada yang merasa susah dalam mendapatkan channel TVRI.

Selain masalah channel TVRI yang belum di program yaitu, masalah sinyal atau antena yang jelek dan mengakibatkan layar televisi tidak jelas atau buram. Beberapa orang tua menyarankan, agar ada upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran jarak jauh.

Misalnya, memperbanyak sesi penyampaian materi (tidak sebatas tugas), pemberian pelatihan tambahan untuk guru terkait penguasaan teknologi, dan menyediakan akses internet yang lebih merata.

Mengingat, pengadaan infrastruktur internet tidak bisa dilakukan cepat, maka, untuk mereka yang berada di daerah dengan keterbatasan internet dan terpencil tapi belum masuk zona merah, dan kuning covid-19.

Pemerintah daerah bisa memberdayakan komunitas desa seperti, Taman bacaan masyarakat (TBM), kelompok pemuda, pengurus posyandu, atau ibu - ibu PKK, dan perangkat Desa. Tentu, cara ini tetap harus memperhatikan prosedur yang aman dari risiko tertular covid-19.

Jika diperlukan, sumber daya yang dimiliki pemerintah desa juga bisa digunakan untuk penyediaan buku bacaan, internet gratis dan kebutuhan nutrisi anak.

Kementerian Pendidikan telah mengizinkan sekolah menggunakan Biaya Operasional sekolah (bos) untuk membeli paket pulsa dan akses internet. Kebijakan ini diharapkan dapat membantu proses belajar jarak jauh bagi guru maupun siswa. Selain sekolah, pemerintah Desa juga bisa membantu guru dan siswa untuk mendapatkan akses internet, atau kebutuhan lain untuk mengajar dan belajar.

Selain itu, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Sosial, dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, perlu mendukung upaya tersebut dengan regulasi yang fleksibel.

Untuk mengantisipasi ketimpangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menyediakan pembelajaran melalui TVRI dan RRI mulai 13 April 2020, Pendekatan ini diharapkan bisa menjangkau lebih banyak siswa. Program ini juga harus bisa mengakomodasi kepentingan anak berkebutuhan khusus, seperti penggunaan bahasa isyarat.

Biodata Penulis Nama : Bestari Dinda Syafitri

Email : bestarid00@gmail.com

Pekerjaan : Mahasiswa Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Muhammadiyah Malang