Data Pelanggan LPG Bersubsidi 3 Kg Di Kota Pasuruan Masih Amburadul Karena InI

Data Pelanggan LPG Bersubsidi 3 Kg Di Kota Pasuruan Masih Amburadul Karena InI Dwi Hardono. Koordinator Hiswana Migas Malang raya. Foto Iwan dayat

Pasuruan, kabarwarta.id - Parah, Data Pelanggan LPG Bersubsidi masih Amburadul di Kota Pasuruan  karena sebagian toko kelontong tidak mengumpulkan data fotocopy KTP pelanggannya ke pangkalan LPG yang menjadi acuan pengumpulan data pelanggan si melon sebutan LPG kemasan 3 kilogram ini.

"Saya sudah dimintai data pelanggan oleh pangkalan sudah dua bulan yang lalu, tapi pelanggan saya banyak yang pindah ke toko Madura karena beli LPG disana tidak dimintai data fotocopy KTP," kata Lilik salah satu pemilik toko kelontong di jalan Kyai Sepuh Kota Pasuruan, Rabu (31/1/24).

Di sekitar jalan Kyai Sepuh Kota Pasuruan ada sedikitnya 3 toko kelontong Madura yang juga menjual LPG Bersubsidi 3 kilogram sayangnya mereka disinyalir tidak mengumpulkan fotocopy KTP pelanggan LPG Bersubsidi yang seharusnya disetorkan ke pangkalan sebagai dat NIK pelanggan.

Menanggapi hal ini, Koordinator Hiswana Migas Malang Raya Dwi Hardono saat dikonfirmasi mengungkapkan bahwa pihaknya menjadikan hal ini sebagai masukan. "Kami jadikan masukan dan nantinya akan kami sampaikan," ujarnya.

Dengan mengumpulkan fotocopy KTP pelanggan ke pangkalan sebagai data acuan pelanggan yang berhak atas pembelian LPG Bersubsidi ini. Namun karena dirasa merepotkan pelanggan memilih mudahnya dengan mencari toko yang menjual LPG Bersubsidi tanpa dimintai fotocopy KTP.

Meskipun dijual sedikit mahal, Pelanggan lebih memilih toko kelontong seperti toko kelontong Madura yang menjual LPG 3 kilogram tanpa mengumpulkan fotocopy KTP pelangganya.

Menurut Dwi, Sejauh ini PT Pertamina dan Hiswana Migas masih melakukan sosialisasi terkait pembelian LPG Bersubsidi dengan menggunakan NIK. "Masih tahap sosialisasi hingga bulan Mei 2024 mendatang," terangnya.

Sementara itu pemilik toko kelontong lokal mendesak agar pemberlakuan fotocopy KTP pelanggan LPG juga diberlakukan pada toko Madura dan pangkalan seharusnya bisa menunjukan data nama toko kelontong dan pelangganya.

"Jangan kami saja yang dioprak dimintai data pelanggan. Toko Madura juga dong pelanggan LPG saya banyak yang lari kesana karena saya mintai fotocopy KTP," keluh Lilik.

Di Kota Pasuruan saat ini sudah menjamur ratusan toko kelontong Madura yang membuka lapaknya 24 jam serta menjual beragam kebutuhan pokok serta barang bersubsidi seperti LPG 3 kilogram dan Pertalite.(dyt)