Di Cowek Kolobendoe, Ada Sutil Dari Kayu Sono Keling

Di Cowek Kolobendoe, Ada Sutil  Dari Kayu Sono Keling Hendro (kiri) pengrajin alat dapur dari kayu sono keling khas Dusun Cowek, Desa Jatiarjo, kecamatan Prigen, kabupaten Pasuruan. Foto iwan dayat.

Kabarwarta.id - Alat dapur yang terbuat dari kayu sono keling khas kerajinan warga Dusun Cowek, Desa Jatiarjo, kecamatan Prigen, kabupaten Pasuruan menembus pasar wisata di kabupaten Tulungagung. Beragam alat dapur seperti sutil (alat penggoreng) entong, (alat pengambil nasi), eros (alat pengaduk makanan), tempat pisau, telenan (tempat mengiris bahan dapur) dan garpu dari kayu sono keling.

Adalah Hendro Siswoyo (29) pria kreatif yang membuat alat dapur dari sono keling ini.

"Berawal tahun 2005, saya diajari oleh kakak saya, dan semenjak 2018 saya membuat sendiri kerajinan ini di sini, dengan beragam model sesuai pesanan konsumen," tukasnya, sabtu (2/11/19).

Selain dijual ke pasar lokal, alat dapur dari kayu ini juga diambil tengkulak dari kabupaten Tulunggagung. "Kayunya kami beli dari afkiran pabrik, dan kami olah untuk alat dapur," ujar Hendro.

Pasar wisata Tretes dan wisata panci di Pandaan juga tidak lepas dari pemasaran alat dapur dari kayu khas Cowek ini.

"Semua jenis barang kami jual bijian, dengan harga empat ribu rupiah hingga sepuluh ribu rupiah namun khusus untuk alat penggorengan yang berukuran jumbo berharga Rp. 12.000. dan kepada pelanggan di wisata panci dan pasar wisata Tretes harganya kami jual lebih murah, karena akan dijual kembali," tambah Hendro.

Pria warga Rt 26 Rw 13, Dusun Cowek, Desa Jatiarjo ini dalam mengerjakan beragam kerajinan alat dapur dibantu oleh seorang karyawanya.

"Dalam satu bulan kami mengirim sebanyak dua kali kepada pelanggan, dengan nilai sekitar Rp.5.000.000 untuk setiap kali transaksi," jelas Hendro.

Kerajianan ini, menurut Hendro belum dilirik oleh pihak Disperindaq maupun dinas lainya untuk pembinaan maupun dikembangkan sebagai salah satu kerajianan khas kayu sono keling karya putra daerah kabupaten Pasuruan.

"Semenjak tahun 2018 hingga sekarang, pemkab Pasuruan belum ada yang meninjau produk hasil kerajinan kami. Selama ini kami memasarkan sendiri dan jika ada pameran maupun kegiatan seperti sekarang ini, yakni Cowek Kolo Bendoe," pungkas Hendro.(dyt)