Dinilai Perbuatan Pidana, Pusaka Desak Polisi Segera Lakukan Penyidikan Kasus Pengerusakan APK Cawalkot Pasuruan

Dinilai Perbuatan Pidana, Pusaka Desak Polisi Segera Lakukan Penyidikan Kasus Pengerusakan APK Cawalkot Pasuruan Lujeng Sudarto, Direktur lembaga pusat studi dan advokasi publik. Foto istimewa

Kabarwarta.id - Pusat studi dan advokasi kebijakan (Pusaka) mendesak polisi untuk mengungkap motif perusakan banner calon Walikota (Cawalkot) Pasuruan.

"Tanpa laporan dari kedua kubu, baik paslon Giat maupun Tegas, polisi bisa melakukan penyidikan terhadap kasus ini dan mengungkap motif serta pelakunya. Bisa jadi ini hanya playing victim atau perbuatan pihak ketiga. dan karena ini bukan delik aduan tapi merupakan tindak pidana pengerusakan APK," Kata Lujeng Sudarto, Direktur Pusaka," Senin (26/10/20).

Atas kasus ini, Pria lulusan ilmu pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang ini memaparkan bahwa, dengan kejadian perusakan banner paslon Cawalkot ini, pihak dari Giat maupun Tegas bisa sama - sama melaporkan ke polisi guna untuk ditindaklanjuti dan mengungkap pelakunya.

Lebih lanjut Lujeng mendorong kedua kubu untuk melaporkan atas pengerusakan alat peraga kampanye kepada polisi untuk diproses dan mengungkap pelakunya.

"Ini tindak pidana, Jadi lebih tepat polisi yang bertindak, bukan Bawaslu. karena kerusakan Apk bukan hanya dialami oleh Giat tapi juga Tegas," imbuh Lujeng.

Menurutnya, hal ini bisa saja tidak dilakukan oleh kubu Giat maupun Tegas. tapi oleh pihak ketiga yang sengaja membuat situasi tidak kondusif untuk memunculkan gesekan di tingkat grassroot.

Playing Victim, Adalah, sikap seseorang yang seolah - olah berlagak sebagai korban untuk berbagai alasan seperti membenarkan pelecehan terhadap orang lain, memanipulasi orang lain, strategi penjiplakan atau mencari perhatian.(dyt)