Ilegal Loging Dan Ilegal Mining Salah Satu Faktor Air Tumpah Di Kecamatan Winongan Pasuruan

Ilegal Loging Dan Ilegal Mining Salah Satu Faktor Air Tumpah Di Kecamatan Winongan Pasuruan Penanaman pohon salah satu upaya untuk meminimalisir bencana alam tanah longsor dan banjir. Foto Iwan dayat

Pasuruan, kabarwarta.id - Ilegal Loging dan Ilegal Mining yang marak terjadi di kawasan pegununungan dan perbukitan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya kerusakan alam dan menciptakan ekosistem yang tidak seimbang dan menyebabkan bencana air tumpah (banjir) di Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan.

Kerusakan alam juga bisa menjadi pemicu munculnya berbagai jenis bencana alam di musim kemarau ataupun musim hujan seperti saat ini dan ini merupakan salah satu ancaman untuk masyarakat.

Bencana alam kekeringan saat musim kemarau akibat kerusakan alam, sedangkan bencana tanah longsor dan  banjir akan selalu menjadi ancaman pada musim hujan, terutama saat air hujan intensitasnya cukup tinggi.

Dari tahun ke tahun, Bencana alam angkanya cenderung selalu meningkat dan ini bisa menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup masyarakat yang terdampak bencana alam.

Kerusakan alam yang terjadi membutuhkan program reklamasi dan revegetasi pada lahan kritis terutama di lereng pegunungan untuk mengurangi bencana banjir bandang yang baru saja terjadi di kecamatan Lumbang dan Kecamatan Winongan kabupaten Pasuruan pada beberapa pekan kemarin.

Hal ini merupakan Salah satu fakta dampak dari ilegal loging yang terjadi di kawasan lereng gunung Bromo.

Marakya aksi ilegal loging dan ilegal mining yang tidak terkendali serta alih fungsi lahan pada kawasan hutan dan pertambangan liar seringkali terjadi di kawasan hulu sungai yang menyebabkan kawasan dibawahnya terjadi banjir bandang.

"Sebenarnya banyak yang mempertanyakan hasil evaluasi monitoring dari susunan program mitigasi bencana, padahal pemkab Pasuruan setiap tahun sudah memberikan penghargaan kepada salah satu perusahaan pengelola air mineral di kawasan Desa Keboncandi. Namun nyatanya wilayah terdampak banjir semakin meluas. Seharusnya kan menyusut," Kata Igdam salah satu warga Keboncandi.

Berdasarkan catatan dari situs resmi Pemkab Pasuruan dampak terjadinya banjir yang ekstrim tersebut menenggelamkan banyak rumah di 11 desa yang terdapat pada 3 kecamatan, memutus akses sarana transportasi umum, kontruksi jembatan putus akibat diterjang arus air besar, merusak lahan pertanian milik penduduk dan beberapa rumah penduduk yang hancur.

Pasca bencana banjir di belasan desa Kabupaten Pasuruan tersebut juga menyisahkan sendimen lumpur yang sangat tebal, sehingga ada dugaan terjadinya praktek ilegal loging dan ilegal mining tidak terkendali pada dataran yang lebih tinggi di kawasan hulu sangat kuat.

"Untuk itu diperlukan kepedulian dan kerjasama serta keseriusan dari program CSR perusahaan terutama perusahaan yang memanfatkan sumber daya alam seperti air, batu dan lainya," terang Iqdam.

Penulis

Yahya Syarwani