Kesakralan 1 Suro Di Menara Masjid Gentong

Kesakralan 1 Suro Di Menara Masjid Gentong Dua pelaku Spiritual di menara masjid Gentong yang didirikan oleh Kyai Sepuh. Foto iwan dayat.

Kabarwarta - Malam 1 suro hingga di hari satu suro yang dianggap sakral oleh para lelaku spiritual, diantaranya dengan bersemedi maupun puasa bahkan membawa sejumlah barang untuk prosesi ritual.

Seperti halnya yang dilakukan di bawah menara masjid Gentong, yang berada di area pondok pesantren Al Ghofuriyah, Gentong, Gadingrejo, Pasuruan. Mereka, para lelaku rela berpuasa bahkan tanpa mata terpejam selama prosesi satu  Suro dilangsungkan di tempat ini.

Konon, di masa penjajahan, menara masjid yang di bangun oleh kyai sepuh ini digunakan untuk melihat kedatangan tentara Belanda yang akan masuk ke wilayah ini. "Disamping untuk mengintai kedatangan musuh, menara ini juga digunakan oleh para calon jamaah haji yang akan berangkat ke tanah suci, dan sebagian orang mempercayai bahwa di menara ini sebagai tempat lelaku Kyai Sepuh," kata Maskur, minggu malam (1/9/19).

Selain menara yang terdapat di dalam masjid, makam Kyai Sepuh atau Kyai Abdul Ghofur yang berada di sebelah selatan masjid, juga kerap kali dijujugi para peziarah dari berbagai daerah di Indonesia dengan beragam tujuan, terutama di malam 1 Suro dan malam 1 Mukharom atau tahun baru Hijriyah.

Para lelaku spritual di kedua tempat ini, biasa membawa air putih dalam kemasan botol air mineral yang diletakkan di sekitar menara atau makam Kyai Sepuh dengan keadaan tutup yang dibuka ketika memanjatkan doa atau melakukan prosesi ritual. "Ada pantangan di masjid dan makam ini, yakni membunyikan terbang baik Ishari maupun Al Banjari, karena Kyai Sepuh tidak suka dengan bunyi musik yang keras, jika dilanggar, maka penerbang akan menerima akibatnya, yakni cacat tangan dan kehilangan pendengaran," ujar Beni, salah satu tokoh spiritual di tempat ini.

Makam Kyai Sepuh, setiap malam Rabu Pahing selalu ramai dikunjungi peziarah maupun warga sekitar yang membacakan surat Yasin dan tahlil serta doa bersama yang dibimbing oleh pengasuh Ustad Nur Wachid dan Udtad Mughni.

Kyai Sepuh Gentong merupakan salah satu guru dari Kyai Abdul Hamid Pasuruan yang makamnya tidak pernah sepi dari kunjungan peziarah. "Semasa kyai sepuh masih ada, kyai Hamid pernah sowan kesini, dan kyai sepuh bilang kepada kyai Hamid, mbesok uripmu sampai kuburanmu bakal wangi koyok kembang melati iki," kata Ustad Mahmud salah satu cicit kyai sepuh yang juga mendapat cerita ini dari kekeknya.

Lokasi masjid dan makam KH Abdul Ghofur berada di gang Kyai Abdul Ghofur, Rt 01 Rw 06, kelurahan Gentong, kecamatan Gafingrejo, kota Pasuruan.(dyt)