Kesempatan Memperbaiki Alam Dibalik Datangnya Covid-19

Kesempatan Memperbaiki Alam Dibalik Datangnya Covid-19 Foto penulis, Ratih Hesti Ningsih S.Hut

Kabarwarta.id - Kesempatan Memperbaiki Alam Dibalik Datangnya COVID-19

Oleh : Ratih Hesti Ningsih

Kehidupan manusia, tidak terlepas dari alam. Dengan memanfaatkan alam sebagai kebutuhan untuk menopang pembangun infrastruktu. Hal ini, banyak berdampak buruk dengan mengatasnamakan pembangunan. Demi mencapai tujuan pembangunan tersebut, kita mengeksploitasi alam dengan berbagai cara. seperti, menambang mineral dan logam, menguasai lahan yang menyebabkan kerusakan hutan, karhutla, serta kekeringan dan terusiknya kehidupan satwa yang ada di ekosistem tersebut.

Terlihat jelas, bahwa keruskan ini, mengarah pada penggunaan dan penyalahgunaan sumberdaya alam dalam perkembangan kehidupan manusia. Tindakan-tindakan yang dilakukan manusia bukanlah tanpa resiko. Terlepas dari adanya krisis iklim dan ekologi yang sedang terjadi pada dekade ini. Seperti, terjadinya pemanasan global dengan ditandai naiknya suhu di permukaan bumi.

Menurut NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) menyebutkan bahwa, pemanasan gelobal merupakan salah satu bentuk perubahan iklim yang ditandai dengan adanya kenaikan suhu bumi. Hasil kajian para ilmuan tersebut memproyeksikan bahwa, suhu global akan terus meningkat dalam beberapa dekade mendatang. Kenaikan suhu global sebagian besar disebabkan oleh efek gas rumah kaca yang dihasilkan akibat aktivitas manusia. Penyebaran hutan yang ada di seluruh bumi, tentu bukan tanpa alasan, karena, hutan merupakan salah satu ekosistem yang sangat penting bagi keberlangsungan mahluk hidup. Keberadaan hutan ternyata membawa dampak yang positif, dan baik bagi kehidupan manusia.

Akan tetapi, Pemanfaatan hutan saat ini banyak mengalami pergeseran. Pembalakan liar, perambahan hutan untuk kebun, atau alih fungsi lahan, dan pertambangan adalah tiga masalah besar yang menyebabkan kerusakan.

Aktivitas pembangunan yang secara langsung bersentuhan dengan kawasan hutan menyebabkan dampak buruk. Terlihat, dari 10 tahun terakhir ini, banyak sekali keruskan terparah yang terjadi di Indonesia. Salah satu peristiwa yang masih hangat terjadi pada tahun 2019 adalah, peristiwa banjir bandang yang menimpa di wilayah Sulawesi Tenggara, tepatnya berada di daerah Kabupaten Konawe Utara yang menyebabkan kerusakan.

Berdasarkan keterangan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Konawe Utara yang mengatakan bahwa bencana tersebut menyebabkan kerusakan rumah warga, merendam beberapa Desa, dan memutus akses jalan, serta masyarakat yang kehilangan harta benda.

Menurut Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Provinsi Sulawesi Utara (Sultra) yang menyatakan bahwa, banyak kegiatan pertambangan, dan pembalakan liar (illega logging) yang beroprasi secara ilegal, dan permasalahan izin usaha yang tidak tercatat. Hal inilah yang menyebabkan bencana banjir bandang yang menimpa wilayah tersebut.

Pada tahun 2015, terjadinya peristiwa kebakaran hutan di wilayah pulau Sumatera dan Kalimantan. Asap tersebut sampai masuk dan menggangu negara tetangga yakni Singgapura dan Malaysia. Selain itu, juga menyebabkan pencemaran udara yang sangat berbahaya.

Kebakaran hutan dan bencana kabut asap ini, menurut Bank Dunia (World Bank) menyatakan bahwa, bencana ini merupakan bencana yang terburuk dan terpanjang di Indonesia. Kebakaran ini disebabkan banyaknya pembalakan dan alih fungsi lahan mejadi perkebunan.

Berdasarkan catatan FWI (Forest Watch Indonesia) pada tahun 2014. Total luas HTI (Hutan Tanaman Indonesia) di Indonesia mencapai sekitar 10 juta hektar, yang sebagian besar berada di pulau Sumatera dan Kalimantan. Bencana kebakaran, juga dapat menggangu keberlangsungan mahluk hidup satwa liar.

Terjadinya kebakaran hutan ini mengancam berbagai jenis satwa liar yang bisa punah. Hingga memaksa satwa liar bermigrasi, atau turun ke pumukiman warga untuk mencari tempat yang aman, ataupun mencari bahan untuk dimakan. Selanjutnya, dapat menyebakan terjadinya konflik antara satwa liar dengan manusia.

Melakukan perburuan liar dan perdagangan satwa liar hingga mengkonsumsi satwa, merupakan salah satu tindakkan ekstrim yang dilakukan oleh manusia saat ini. Hal ini membuat semakin meningkatnya perdagangan satwa, baik di dalam negeri, ataupun global. Hal ini memicu terjadinya kepunahan spesies dari satwa tersebut.

Data ini di perkuat oleh hasil survey dari ProFuna Indonesia di tahun 2012 yang mengungkapkan bahwa, perdagangan satwa liar dalam kurun 5 tahun terakhir mengalami peningkatan di Indonesia. Satwa liar yang dijadikan bahan konsumsi bagi manusia, menjadi pertanyaan besar bagi kita. Apakah kebutuhan pangan bagi manusia saat ini kurang? Hingga manusia melakukan tindakan tersebut. Satwa liar yang ditangkap secara langsung dari habitatnya dan di perjual belikan. Padahal memiliki resiko tinggi, karena dengan melakukan kontak langsung dengan satwa liar dapat menyebabkan penularan penyakit.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat, satwa merupakan vektor dari lebih 60 persen penyakit menular. Lembaga ini juga menyatakan bahwa, tiga dari setiap empat penyakit menular baru atau yang tengah berkembang bersifat zoonosis, atau dapat menular ke manusia.

Penyakit seringkali melompat dari satwa ke manusia. Akan menjadi serius, serta berpotensi memicu pandemik saat terjadi penularan manusia ke manusia. Seperti halnya Covid-19 yang menjadi pandemi saat ini, pertama kali terdeteksi muncul di Kota Wuhan, Tiongkok. Virus ini diketahui pertama kali muncul di pasar hewan, dan makanan laut di Kota Wuhan.

Dilaporkan kemudian bahwa, banyak pasien yang menderita virus ini dan diketahui pasien tersebut merupakan para pedagang di pasar itu. Sebelum terjadi wabah Covid-19, Sudah ada beberapa wabah yang menyebar seperti, Zika, Aids dan Ebola.

Ebola juga dipicu interaksi satwa ke manusia dan mewabah di Afrika Barat mulai tahun 2014 hingga 2016. Pada saat itu, para konservasionis menyatakan bahwa, wabah itu menyerang satwa liar hingga membuat masyarakat tidak lagi mengonsumsi daging satwa liar. Menurunnya, kemampuan alam secara global, yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia ini.

Sebenarnya dapat meningkatkan kerentanan kita terhadap datangnya penyakit baru. Terutama dari prilaku buruk manusia yang telah di jelaskan sebelumnya.

Wabah dan pennyakit ini merupakan manifestasi dari hubungan kita yang tidak seimbang dengan alam. Kondisi tekanan lingkungan yang parah inilah, yang mengakibatkan prilaku destruktif terhadap alam yang membahayakan kesehatan manusia itu sendiri.

Sebagian besar penyakit menular yang muncul didorong oleh aktivitas manusia. Jadi bagaimana kita mengatasi permasalahan ini ? Kita harus menyadari bahwa cara manusia saat ini memproduksi dan mengonsumsi makanan serta banyak melakukan pengabaian terang - terangan terhadap lingkungan secara lebih luas, telah mendorong alam melewati ambang batas kemampuan dalam mencover kebutuhan manusia.

Kondisi saat ini sangat penting bagi pemerintah untuk memulihkan ekosistem, dengan menempatkan lingkungan pada jalur pembangunan yang berkelanjutan (SDGS).

Jika kita ingin mengurangi kerentanan kita terhadap ancaman kesehatan tersebut, maka, penggunaan model yang menghargai alam dapat dijadikan pondasi bagi masyarakat untuk keberlangsungan hidup yang baik dan merata.

Tidak hanya itu, kita perlu juga harus segera mengatasi masalah mendasar yang mendorong perusakan alam. Bersama-sama dalam keadaan pandemi ini, kita harus mengambil kesempatan dan menyadari. Bahwa Covid-19 tidak hanya memberi dampak yang merugikan, tetapi memberikan manfaat bagi lingkungan yang tidak biasa. Seperti, menjadikan udara bersih di beberapa wilaya kota atau negara besar akibat menurunkan emisi karbon yang lebih rendah dan memberikan kebebasan bagi satwa liar. Sehingga mengajak kita untuk apakah bisa mengambil kesempatan ini untuk memperbaiki alam. Menyeimbangkan kembali hubungan manusia dengan alam akan membutuhkan upaya dan tekad bersama. Sehingga, akan menciptakan masa depan yang lebih sehat dan lebih baik bagi manusia dan bumi, serta menempatkan kita pada posisi yang lebih baik untuk mencegah agar tidak terjadi pandemi berikutnya. Tentunya, ini adalah upaya yang harus kita semua lakukan.

Biodata Penulis :

Nama : Ratih Hesti Ningsih S.Hut

Status : Mahasiswi Pasca Sarjana Universitas Brawijaya Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan dan Pembangunan.

Email : ratihhn@gmail.com