Melawan Hoax Ditengah Pandemi Covid-19

Melawan Hoax Ditengah Pandemi Covid-19 Foto penulis : Zahro Qoryatina Putri

Kabarwarta.id - Melawan Hoax Di Tengah Pandemi Covid-19

Penulis: Zahro Qoryatina Putri (Mahasiswi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Dan Politik Universitas Muhammadiyah Malang)

Beredarnya berita hoax, memang selalu saja tumbuh di dalam masyarakat, terutama, diera modern ini.

Dengan memanfaatkan media sosial yang sudah sangat maju, berita-berita yang belum tentu kebenaranya, dengan gamblang tersebar, hingga penjuru negeri, dan dengan mudahnya diterima, kemudian disebarkan lagi oleh masyarakat pengguna sosial media tanpa memverifikasi kebenaran berita-berita tersebut. Berita-berita hoax berkembang pesat seiring dengan berkembangnya teknologi media informasi. Sengaja dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, demi merusak tatanan masyarakat, dan juga merugikan pihak-pihak tertentu.

Pengertian hoax menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah, berita bohong, berita tidak bersumber. Sedangkan menurut Silverman (2015) hoax adalah, serangkaian informasi yang sengaja disesatkan, tetapi "dijual" sebagai kebenaran. Berita-berita hoax sendiri sudah tercatat sangat lama muncul diperadaban, walaupun, sejarah baru mencatat kemunculanya pada tahun 1661.

Tetapi, seiring berjalanya waktu, dan perkembangan teknologi informasi yang kian canggih, berita -berita hoax semakin melekat dengan kehidupan masyarakat. Terlebih lagi ,di tengah pandemi covid-19 ini.

Wabah yang pertama kali muncul dan diberitakan oleh media massa di China akan adanya virus yang mematikan mulai merambah ke negara-negara lain, seperti Indonesia, sehingga, membuat pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat Indonesia merasakan dampaknya. Wabah yang telah ditetapkan sebagai pandemi global oleh WHO pada tanggal 11 Maret 2020 lalu, selain melemahkan sektor pendidikan, bahkan ekonomi. Juga membuat masyarakat yang kurang literasi dengan mudah terbawa oleh simpang-siurnya kabar yang belum tentu kebenaranya.

Seperti, kabar- kabar yang sengaja dibuat oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk membuat masyarakat semakin resah dengan adanya wabah ini. Berita- berita yang belum tentu kebenaranya dengan mudah disebarkan melalui media sosial yang kemudian dengan tidak adanya sebuah verifikasi terlebih dahulu langsung dikirim kembali oleh si penerima tanpa memikirkan kebenaranya secara fakta dan ilmiah.

Contohnya saja, mulai dari sektor ekonomi, pendidikan, hingga sosial melemah karena adanya pandemi Covid-19. Banyak karyawan yang di PHK, pusat perdagangan yang ditutup, proses belajar mengajar dilakukan dengan menerapkan sistem online, Ujian Nasional ditiadakan, para karyawan melakukan WFH atau Work From Home. Kegiatan- kegiatan sosial, bahkan ibadahpun di himbau untuk dilakukan di rumah. Sehingga, media sosiallah yang mampu dijadikan sebagai perantara untuk mendapatkan informasi-informasi yang sedang berkembang di luar saat pemerintah menghimbau masyarakat untuk tinggal di rumah.

Konten yang dijadikan sebagai sasaran oknum tidak bertanggung jawab dalam menyebarkan berita hoax diantaranya, seperti, agama yang berkaitan dengan ajaran dan sistem kepercayaan setiap individu maupun kelompok.

Kedua, yaitu, politik. Konten yang berhubungan dengan kekuasaan dan mempertahankan kekuasaan.

Ketiga, berupa konten yang menyangkut etnis. Dimana adat, kebudayaan, bahasa, budaya digunakan oleh oknum pembuat berita hoax.

Keempat, kesehatan yang berkaitan dengan jasmani dan rohani, kelima, konten penipuan yang dapat merugikan pihak yang dikecoh, dan masih banyak lagi konten-konten yang sengaja dibuat untuk membuat masyarakat semakin tenggelam dalam berita bohong.

Sejauh ini, berita Hoax yang berkembang dan menyebar saat pandemi Covid-19 terhitung sangat tinggi. Seperti yang dipaparkan oleh Menkominfo pada Beritasatu.com. "ada lebih dari 500 isu hoax soal Covid-19. Berita-berita palsu yang menyebar berbentuk narasi, gambar atau foto, video. Bahkan pemerintahpun sudah membuat pagar hukum untuk memerangi berita-berita hoax yang tengah menyebar di masyarakat, yaitu, UU ITE, pasal 45 A ayat (1). 'Setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan dipidana dengan pidana penjara 6 tahun dan denda sebanyak 1 miliar".

Lantas, mengapa berita-berita hoax masih tumbuh dan menyerang masyarakat? Faktor yang menjadikan berita-berita hoax tetap ada adalah, lemahnya sistem pengawasan kepada sosmed, seperti, mudahnya membuat konten - konten yang tidak ada verifikasi. Sehingga, konten yang disampaikan kepada masyarakat simpang siur akan kebenaranya. Kedua, adalah faktor ekonomi. Oknum yang tidak bertanggung jawab dengan mudah mengarang berita bohong demi mendapatkan penghasilan, sehingga dapat mendongkrak ekonominya. Sedangkan faktor ketiga adalah, rendahnya literasi yang cenderung membuat penerima informasi dengan mudah mempercayainya, tanpa memverifikasi kebenaran berita tersebut dan kemudian membagikanya kembali tanpa mencari fakta yang sebenarnya.

Cara yang harus dilakukan oleh masyarakat dalam menyikapi berita -berita hoax terlebih saat pandemi Covid-19 yang tengah dihadapi oleh penduduk dunia terutama Indonesia adalah, dengan cara tegas kepada diri sendiri untuk tidak mudah percaya dan menelan begitu saja berita yang diterima, menyadari maksud dan tujuan dari berita, menahan diri untuk tidak tergesa-gesa dalam menyebarkan berita yang sudah diterima tanpa melakukan verifikasi, kemudian, mengingat kembali dengan adanya UU ITE yang telah dibuat oleh pemerintah agar kita lebih hati - hati dalam menyebarkan berita.

Alangkah baiknya mengikuti akun-akun terpercaya seperti milik pemerintahan untuk mengikuti perkembangan kasus dari Covid-19 dan juga untuk mengikuti berita- berita lainya.

Biodata Penulis

Nama: Zahro Qoryatina Putri Email: zahroqoryatinaputri@gmail.com

Pekerjaan: Mahasiswi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Program Studi Sosiologi, Universitas Muhammadiyah Malang