Nasib Para Penimbun Alat Kesehatan Di Tengah Pandemi Covid-19 Saat Ini

Nasib Para Penimbun Alat Kesehatan Di Tengah Pandemi Covid-19 Saat Ini

Kabarwarta.id - Nasib Para Penimbun Alat Kesehatan Di Tengah Pandemi Covid-19 Saat Ini

Penulis : Dita Aulia Pratiwi (Mahasiswi Sosiologi Unmuh Malang)

Saat ini, Dunia telah di gencarkan oleh pandemi covid-19. Seluruh lapisan masyarakat ikut terkena dampaknya. Mulai dari tingkat pendidikan, pariwisata, sosial, ekonomi, dan hampir seluruh ikut merasakannya. Dengan keadaan yang seperti ini, Masih ada oknum -oknum yang memanfaatkan situasi seperti yang sedang terjadi saat ini.

Mereka, Tidak memikirkan saudara - saudaranya yang sedang kesusahan. Demi kepuasan harta semata, Sampai tega melakukan perbuataan tersebut. Banyak kasus yang saya temui melalui berita yang beredar di televisi, media sosial, dan sebagainya. Contohnya, Seperti ada oknum yang menimbun masker, handsanitizer, dll.

Akibat dari banyaknya oknum yang menimbun, sampai terjadi kelangkaan barang yang yang mengakibatkan kenaikan harga barang tersebut secara drastis.

Tidak di sangka - sangka kenaikanya bisa mencapai hingga lima kali lipat dari harga normal. Dalam situasi seperti ini, seharusnya, kita bisa sama - sama saling membantu, bukannya malah mempersulit keadaan.

Hal yang membuat miris lagi, Adalah, kebanyakan masyarakat dalam menyikapi Covid-19 masih banyak yang menanggapinya secara berlebihan, dan juga panik, sampai - sampai, mereka memborong semua kebutuhan makanan pokok, APD, dan bahan medis lainya untuk keperluan pribadi.

Mereka, Tidak memikirkan saudara - saudaranya yang sedang kesusahan mencari pangan, berjuang mencari rezeki di jalan dengan resiko yang sangat tingi.

Bahkan, Sepekan yang lalu, beredar di media sosial Instagram yang sedang viral adalah, Para penimbun masker dan handsanitizer mulai berhamburan di pinggir jalan berjualan dagangan hasil timbunannya yang sudah tidak laku. Sampai - sampai di jual dengan harga miring alias rugi.

Karena, bulan lalu, saat covid-19 mulai masuk ke Indonesia, barang tersebut langka dan susah di cari. Tapi, saat ini, sudah ada kembali di pasaran atau minimarket lainnya.

Akibatnya, Mereka para penimbun mulai kebingungan, dan menjual barang mereka sangat murah jauh dari harga pasaran.

Di media sosial hal ini sangat mendapatkan kritikan pedas akibat ulahnya yang tidak manusiawi. Banyak netizen yang menyalahkan dan mendoakan yang jelek untuk mereka, tidak ada rasa kasian sama sekali terhadap para penimbun. Salah satu komentar di Instagram akun dari rindangmaaris yang mengatakan “diberikan ke puskesmas atau rumah sakit aja biar berkah. Rezekinya dikembalikan Allah dengan cara yang lain” ada juga yang menertawakan akibat kekesalannya seperti akun dari “dulu di timbun sekarang di obral, masker kain menertawakan nya” begitulah komentar dari nopryashrun17 yang di berikan.

Padahal, sebelum adanya pandemi Korona ini, Harga masker per boks berkisaran Rp.20.000,00 yang berisi 50 lembar masker, Dan saat virus Corona telah menyebar di Indonesia harga masker mencapai Rp.350.000,00 per boks, sungguh kenaikan harga yang sangat fantastis.

Bahkan, Di daerah Tirto  kota Malang, harga masker eceran per biji di patok gengan harga Rp 10.000,00. Ini masih masker, belum lagi hand sanitizer yang semula dipatok harga Rp 15.000,00 semenjak ada virus Corona menjadi RP 35.000,00 sampai Rp 65.000,00. Bayangkan saja di tengah masa sulit ini, dan masyarakat dilanda kepanikan, akhirnya mau tidak mau terpaksa membeli barang tersebut untuk melindugi diri masing-masing.

Para oknum tersebut pun meraup keuntungan sangat banyak sekali dari hasil kejahatannya itu. Untungnya, pihak pemerintah dan kepolisian bergerak cepat, dan bisa mengawasi para pelaku penimbun alat kesehatan.

Menteri kesehatan juga telah bergerak cepat dengan menginformasikan bahwa alat medis kesehatan lainya hanya di pergunakan untuk tim kesehatan beserta pasien yang terkena virus  Corona tersebut.

Kita, Sebagai msyarakat yang diberikan kesehatan cukup menggunakan masker kain. Pihak kepolisian juga telah menindak lanjuti kasus tersebut dan beberapa oknum juga telah tertangkap.

Pakar hukum pidana, Abdul Fickar Hadjar menuturkan, "oknum yang mengambil keuntungan dengan menimbun barang dijerat Pasal 107 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan. dan Pasal 107 UU tersebut berbunyi : 'Pelaku usaha yang menyimpan barang kebutuhan pokok dan/atau barang penting dalam jumah dan waktu tetentu pada saat dan/atau terjadi hambatan kelangkaan lalu barang, lintas gejolak perdagangan harga, barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) di pidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah)'.

Saat ini, Para penimbun alat kesehatan telah dihantui rasa was - was, dan takut adanya pasal tersebut. Mereka, dihantui rasa ke khawatiran jika nanti terciduk oleh polisi.

Saya berharap, Pihak kepolisian mengusut tuntas para oknum yang tidak bertanggung jawab ini. Dan jangan sampai diberi ampun. Karena, sudah merugikan dan mempertaruhkan nyawa masyarakat Indonesia.

Dan, semoga tidak ada lagi yang berniat ingin menimbun barang kesehatan. Mari kita berjuang ber sama - sama saling membantu dan saling mensupport antar sesama untuk memberantas virus Corona. Dengan membeli alat kesehatan cukup sewajarnya saja, dan tidak perlu berlebihan, agar yang lain ikut kebagian dan tidak menjadikan kelangkahan barang.