New Normal, "Main Petak Umpet Bersama Covid-19"

New Normal, Foto penulis: Seto Aji Nurkhorib

Kabarwarta.id - New Normal, "Main Petak Umpet Bersama COVID-19"

Oleh : Seto AJi Nurkhorib Mahasiswa Program Studi Sosiologi FISIP UMM

Masyarakat Indonesia dari sabang sampai merauke, semenjak 3 bulan yang lalu mendapati situasi dan kondisi lumpuhnya semua sektor kehidupan.

Dimulai kehilangan pekerjaan, menurunnya kualitas pendidikan, sampai yang lebih parah yakni, terserang penyakit dan sampai terjadi kematian.

Kondisi dan situasi ini tidak saja terjadi pada segelintir kelompok, tapi kepada seluruh lapisan masyarakat yang ada di Indonesia. Keterpurukan demi keterpurukan sudah di alami, dan segala solusi sudah di lakukan, terlebih dari pemerintah pusat sampai pemerintah daerah sudah membuat berbagai macam kebijakan untuk menyelesaikan semua persoalan di dalam kondisi dan situasi saat ini.  COVID-19, yang sudah menyebabkan kondisi dan situasi dari normal menjadi kacau balau seperti saat ini.

Awal munculnya COVID-19 di wuhan, china pada akhir tahun 2019, yang banyak memakan korban jiwa dan sampai menyebabkan sebagaian besar negara china mengalami kondisi keterpurukan, lalu menyebar di negara-negara yang lain. Sampailah di Indonesia, terjangkit juga COVID-19, tepatnya pada pertengahan bulan februari 2020 dan terus meningkat jumlah perseberannya. Yang dimulai dari satu provinsi di Indonesia, kini menyebar luas sudah di setiap provinsi dan kabupaten di Indonesia terjangkit COVID-19, artinya, setiap warga negara yang hidup di Indonesia sudah memiliki peluang terjangkit COVID-19.

Jumlah data berdasarkan peta sebaran oleh gugus tugas percepatan penanganan COVID-19 di Indonesia, pada 12 juni 2020, sudah terdapat 36.405 kasus, 21.145 sedang dalam perawatan, 2.048 meninggal dunia, dan 13.213 dinyatakan sembuh. Sedangkan untuk di seluruh dunia yang terpapar COVID-19 terdiri dari 198 negara, 7,27 juta orang terkonfirmasi COVID-19 dan 413 ribu orang  menininggal dunia.

Di Indonesia, setiap harinya mendapatkan lebih dari 20 orang terkonfirmasi dan meninggal dunia oleh COVID-19. Ini menjadi bencana nasional dan juga internasional.

Indonesia dengan mengadakan protokol kesehatan, melalui surat edaran Menteri kesehatan dengan nomor HK.02.01/MENKES/202/2020 tentang Protokol Isolasi Diri Sendiri dalam Penanganan Corona Virus Disease (COVID-19) dan juga strategi pemutusan mata rantai penyebaran melalui peraturan pemerintah nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), dan juga PERMENKES no 9 tahun 2020 tentang Pedoman PSBB dalam rangka Percepatan Penanganan COVID-19.

Upaya-upaya yang dilakukan pemerintah sudah sangatlah komplit, sehingga, ada pengorbanan besar didalam sektor ekonomi, yang menyerang kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat kelas menengah kebawah, sehingga, munculah banyak permasalahan -permasalahan lain yang timbul akibat hal tersebut.

Masyarakat mulai tidak lagi mematuhi kebijakan pemerintah. karena, atas dasar kebutuhan perekonomian yang menunjang kelangsungan hidup. walaupun, pemerintah juga sudah memberikan bantuan kepada mereka yang terdampak.

Sudah banyaknya pertimbangan mengenai sektor ekonomi yang menjadi biang kerok utama menambahnya keterpurukan, Oleh karena itu pemerintah membuat kebijakan new normal, Yang artinya aktivitas produktif diperbolehkan kembali dengan memperhatikan protokol kesehatan.

Dengan kondisi keterpurukan akibat COVID-19, yang menyerang besar -besaran terhadap perekonomian masyarakat, terutama masyarakat kelas menengah kebawah. Pemerintah pun akhirnya membuat kebijakan baru yang di sebut new normal atau keadaan baru dalam melakukan kegiatan sehari-hari.

Dengan dibukanya kembali PSBB, dan segala aktivitas dalam sektor perekonomian dengan tetap mengindahkan protokol kesehatan sesuai surat edaran Kemenkes.

Kebijakan mengenai new normal  belum ada undang-undang yang mengaturnya, namun, setiap unit kementrian dan institusi pemerintahan, maupun swasta sudah melakukan kebijakan masing-masing untuk aturan yang wajib dipatuhi saat menerapkan new normal.

Melihat secara sosiologis, New normal  yang ada di masyarakat umumnya seolah-olah tanpa protokol, dan stigmanya adalah, bawasannya sudah dibuka kembali segala aktivitas seperti sebelumnya. Sehingga masyarakat sudah bebas kembali melakukan aktivitasnya seperti biasa, walaupun tetap menggunakan masker dan cairan Hand Sainitizer, tetap saja rentan untuk tertular COVID-19.

Hal ini dibuktikan dengan menambahnya jumlah penyebaran COVID-19 sampai menembus angka 30.000. Demi keberlangsungan hidup masyarakat saat ini, dengan kebijakan pemerintah mengenai COVID-19 dan kebutuhan ekonomi, maka aktivitas masyarakat seperti, main petak umpet yang artinya di dalam melakukan aktivitas sehari - hari yang bertentangan dengan protokol kesehatan, dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Istilah ini melihat, banyak masyarakat tetap melakukan aktivitasnya dari awal kebijakan PSBB sampai new normal, tetap melakukan aktivitas seperti biasa, terutama masyarakat pada tingkat ekonomi menengah kebawah.

Saat kebijakan dengan Badan Pengawasan yakni, aparat keamanan. Masyarakat melakukan segala cara agar terhindar dari kebijakan -kebijakan tersebut, dengan dalih memenuhi kebutuhan keberlangsungan hidup.

Juga dalam kebijakan baru mengenai new normal dari pemerintah, tidak ada sosialisasi yang jelas dan paten secara legalitas untuk masyarakat umum, terutama kepada masyarakat menengah kebawah.

Seolah-olah pemerintah juga melakukannya secara sembunyi - sembunyi kepada masyarakat. Untuk analogi yang jelas antar masyarakat dan pemerintah, sedang bermain petak umpet bersama COVID-19. Yang satu berjaga, dan yang lainnya sembunyi, jika sudah ketahuan dan mendapatkan tindakan, maka permainan akan dimulai lagi dengan rule atau pola yang sama.

Analogi petak umpet ini harus segera diselesaikan dengan pemerintah untuk saat ini. Jika sudah siap melakukan new normal, seharusnya ada sosialisasi kepada masyarakat umum, dan menjelaskan teknis kebijakan yang harus dipatuhi. Sehingga masyarakat juga bisa memahami dan dapat mengambil langkah untuk tetap melakukan aktivitas produktif penunjang kebutuhan keberlangsungan hidup mereka.

Masyarakat pun, harus mendapatkan jaminan atas pemulihan kondisi pekerjaan, kesehatan, serta pendidikan yang sudah mengalami perubahan yang morat-marit atau berantakan. Dengan adanya kejelasan serta sosialisasi sampai lapisan masyarakat terendah, maka masyarakat juga harus patuh dan disiplin untuk mengikuti kebijakan yang berlaku, agar pendemi COVID-19 ini bisa segera tuntas dan hilang dari Indonesia.

Pada akhirnya, pemerintah pun susah untuk membuat suatu regulasi guna mengatur dalam mengembalikan kondisi msayarakat, terutama sektor ekonomi dan kesehatan yang menjadi faktor utama, dan masyarakat pun yang masih belum mendapatkan pemahaman yang jelas dan terstruktur, sehingga masih kebingungan untuk menentukan nasib dalam memenuhi kebutuhan hidup.

Karena kehilangan pekerjaan dan stigma yang ada di dalam lingkungan masyarakat mengenai COVID-19. Semoga dalam menentukan kebijakan baru untuk new normal ini, baik pemerintah dan masyarakat dalam melakukannya dengan baik dan benar, sehingga kita semua bisa ber aktivitas seperti sebelumnya.