KABARWARTA.ID - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kini mulai merambah ke sektor vital ekonomi dunia, yakni pasokan energi. Qatar, sebagai salah satu produsen gas alam cair (LNG) terbesar, berada di posisi yang sangat rentan di tengah memanasnya konflik antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel.
CEO QatarEnergy, Saad al-Kaabi, mengungkapkan kekhawatiran mendalamnya mengenai keamanan infrastruktur energi di kawasan tersebut. Ia mengaku telah berulang kali memberikan peringatan kepada pihak otoritas di Amerika Serikat mengenai potensi gangguan yang bisa melumpuhkan pasar global.
"Mereka sadar akan ancaman itu, dan saya selalu mengingatkan mereka, hampir setiap hari, bahwa kita perlu memastikan adanya pengendalian terhadap fasilitas minyak dan gas," ujar Kaabi dilansir dari Reuters.
Langkah antisipasi yang dilakukan Kaabi tidak hanya menyasar pemerintah, tetapi juga para petinggi perusahaan energi global. Ia secara aktif menjalin komunikasi dengan mitra strategis seperti Exxon Mobil dan ConocoPhillips guna membahas risiko yang membayangi operasional mereka.
"Saya selalu memperingatkan, berbicara dengan para eksekutif minyak dan gas yang bermitra dengan kami, berbicara dengan Menteri Energi AS, untuk memperingatkannya akan konsekuensi tersebut dan bahwa hal itu bisa merugikan kami," kata Kaabi dilansir dari Reuters.
Menanggapi situasi tersebut, pihak korporasi mulai memberikan pernyataan resmi mengenai komitmen mereka di Qatar. Salah satu mitra utama menegaskan bahwa kerja sama akan terus berlanjut meskipun risiko keamanan meningkat secara signifikan.
"Kami tetap berkomitmen penuh pada kemitraan jangka panjang kami dan akan terus bekerja sama dengan QatarEnergy dalam jalur pemulihan," kata juru bicara ConocoPhillips dilansir dari Reuters.
Di sisi lain, Gedung Putih menyatakan bahwa pemerintah Amerika Serikat telah memantau situasi ini dengan saksama. Pihak kepresidenan mengklaim telah menyiapkan langkah-langkah untuk menghadapi kemungkinan gangguan pasokan energi dalam waktu dekat.
"Presiden Donald Trump dan seluruh tim energi sadar akan risiko gangguan jangka pendek pada pasokan minyak dan gas, imbas serangan ke Iran," ungkap juru bicara Gedung Putih Taylor Rogers dilansir dari Reuters.