KABARWARTA.ID - Krisis pasokan solar di Myanmar semakin memburuk, memaksa para petani untuk mengambil langkah ekstrem demi mengamankan bahan bakar bagi traktor mereka. Situasi ini menyebabkan antrean panjang di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), bahkan memaksa warga harus menginap.

Kondisi sulit ini sebagian besar dipicu oleh ketegangan geopolitik global, khususnya gangguan pada rantai pasokan energi menyusul konflik yang memengaruhi jalur pelayaran penting. Gangguan ini berdampak langsung pada ketersediaan energi di dalam negeri Myanmar.

Seorang petani bernama Win Zaw mengungkapkan betapa beratnya perjuangan sehari-hari untuk mendapatkan bahan bakar yang esensial bagi kegiatan pertaniannya. Ia menyatakan bahwa antrean sering dimulai sejak dini hari, bahkan sampai berlanjut hingga malam hari.

Win Zaw menggambarkan situasi yang ia hadapi sebagai pemborosan waktu dan energi yang sangat signifikan dalam upaya sederhana mendapatkan solar. Ia merasa harus berjuang keras hanya untuk keperluan dasar operasional pertaniannya.

Ia bahkan menyatakan, "Saat ini, kami praktis sedang berperang hanya untuk mendapatkan bahan bakar," ujar Win Zaw, dilansir dari Reuters pada Kamis (26/3).

Kenaikan harga juga menjadi beban tambahan bagi para petani di tengah kelangkaan yang melanda sektor energi tersebut. Pada pertengahan Maret, harga solar di Myanmar melonjak drastis menjadi 3.800 kyat per liter, naik dari harga Februari yang hanya 2.450 kyat per liter.

Petani lain, Moe Win, terpaksa mencari jalan pintas dengan beralih ke pasar gelap setelah dua hari mengantre tanpa hasil yang memuaskan di SPBU resmi. Di sana, harga solar mencapai sekitar 12 ribu kyat per liter, jauh lebih tinggi dari harga resmi.

Moe Win menjelaskan alasannya mengambil risiko membeli di pasar gelap demi kelangsungan panen padinya. "Kadang-kadang, setelah mengantre di kota selama dua hari, kami hanya bisa membeli lima atau enam liter," kata Moe Win.

Ia menambahkan, "Tetapi jika kami tidak memanen padi tepat waktu, tanaman akan hancur, jadi kami harus menanggung biaya apa pun," imbuhnya.