KABARWARTA.ID - Nilai tukar rupiah tercatat mengalami pelemahan pada perdagangan pagi hari Jumat, 27 Maret. Mata uang Garuda berada di posisi Rp16.925 untuk setiap satu dolar Amerika Serikat.
Pelemahan ini menunjukkan kontraksi sebesar 21 poin, yang setara dengan depresiasi sebesar 0,12 persen dari penutupan perdagangan sebelumnya. Pergerakan ini diamati oleh para pelaku pasar keuangan sejak pembukaan sesi pagi itu.
Di tengah situasi rupiah yang melemah, mayoritas mata uang di kawasan Asia justru menunjukkan tren penguatan. Sebagai contoh, Yen Jepang berhasil menguat tipis sebesar 0,21 persen pada periode yang sama.
Sementara itu, mata uang regional lainnya seperti Baht Thailand dan Yuan China juga terpantau berada di zona hijau. Baht menguat 0,19 persen, sedangkan Yuan mencatatkan kenaikan tipis 0,01 persen.
Namun, tidak semua mata uang Asia mengikuti tren positif tersebut; Peso Filipina tercatat melemah 0,19 persen, dan Won Korea Selatan hanya menguat 0,17 persen. Dolar Singapura juga menguat 0,02 persen, kontras dengan Dolar Hong Kong yang melemah 0,05 persen.
Berbeda dengan kondisi di Asia, mata uang utama dari negara-negara maju mayoritas menunjukkan kinerja positif terhadap dolar AS. Euro Eropa menguat 0,13 persen, dan Poundsterling Inggris juga menguat 0,12 persen.
Franc Swiss turut memperkuat posisinya sebesar 0,08 persen, sejalan dengan mata uang komoditas seperti Dolar Australia yang menguat signifikan 0,31 persen. Dolar Kanada melengkapi tren ini dengan penguatan sebesar 0,10 persen.
Analisis mendalam mengenai pelemahan rupiah datang dari pengamat pasar keuangan. Lukman Leong, seorang Analis Mata Uang dari Doo Financial Futures, menyoroti faktor eksternal sebagai pemicu utama depresiasi ini.
"Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS di tengah meningkatnya sentimen risk off dan harga minyak oleh keraguan investor akan perundingan damai AS-Iran," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.