KABARWARTA.ID - Pemerintah Malaysia menghadapi lonjakan beban keuangan yang signifikan menyusul pergerakan harga minyak mentah di pasar global. Kenaikan subsidi bahan bakar minyak (BBM) tercatat membengkak hingga empat kali lipat dalam kurun waktu kurang dari tujuh hari.
Fenomena ini dipicu oleh eskalasi harga minyak dunia yang bergerak sangat cepat dalam periode waktu yang singkat tersebut. Lonjakan ini memberikan tekanan besar pada anggaran negara dalam upaya menjaga stabilitas harga energi domestik.
Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, secara resmi mengumumkan peningkatan drastis dalam alokasi subsidi bulanan untuk BBM. Subsidi ini mencakup jenis bahan bakar penting seperti RON95 dan diesel yang digunakan secara luas oleh masyarakat dan sektor transportasi.
Menurut pernyataan resmi Anwar Ibrahim, besaran subsidi bulanan untuk BBM melonjak tajam dari sebelumnya hanya 700 juta ringgit Malaysia. Angka ini kini telah membengkak menjadi 3,2 miliar ringgit Malaysia akibat kondisi pasar yang tidak menentu.
Anwar Ibrahim menjelaskan bahwa lonjakan harga minyak mentah terjadi sangat cepat, di mana harga global bergerak dari sekitar US$70 per barel menjadi hampir mencapai US$120 per barel dalam waktu kurang dari seminggu. Hal ini disampaikannya melalui sebuah video penjelasan yang diunggah di akun resminya, dilansir dari situs berita The Star, Senin (23/3).
Kondisi kenaikan harga global tersebut sangat dipengaruhi oleh gangguan serius pada distribusi energi di kawasan-kawasan vital dunia. Salah satu titik kritis yang disebutkan adalah Selat Hormuz, jalur yang sangat penting bagi perdagangan energi global.
Anwar Ibrahim menegaskan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran yang dilalui oleh sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, menjadikannya sangat rentan terhadap gangguan geopolitik atau teknis. Meskipun Malaysia merupakan negara produsen minyak, ketergantungan pada impor masih sangat tinggi.
Perdana Menteri menjelaskan bahwa meskipun Malaysia memproduksi minyak, negara tersebut masih harus mengimpor lebih banyak energi dibandingkan dengan volume ekspor yang dihasilkan. "Malaysia memang memproduksi minyak, tetapi kita juga mengimpor lebih banyak dibandingkan yang kita ekspor," kata Anwar Ibrahim.
Lebih lanjut, Anwar Ibrahim memaparkan data neraca perdagangan minyak tahun lalu yang menunjukkan defisit signifikan. Malaysia mengekspor minyak mentah senilai kurang lebih US$5,5 miliar, namun volume impor mencapai US$12,6 miliar, menghasilkan defisit lebih dari US$7 miliar.