KABARWARTA.ID - Pemerintah Kota Cimahi kini tengah menghadapi tantangan signifikan terkait pengelolaan sampah domestik pasca perayaan Idulfitri 1447 Hijriah. Peningkatan volume sampah yang terjadi selama periode libur panjang tersebut menuntut langkah ekstra dari dinas terkait.

Secara normal, volume sampah harian yang dihasilkan oleh warga Kota Cimahi berada di angka sekitar 250 ton per hari. Angka ini merupakan patokan rutin yang biasanya ditangani oleh sistem pengangkutan sampah kota.

Namun, memasuki bulan Ramadan dan puncaknya saat Lebaran, terjadi lonjakan drastis yang memerlukan perhatian khusus. Produksi sampah dilaporkan bertambah signifikan melebihi batas normal harian.

Kenaikan volume sampah tersebut diperkirakan melonjak hingga lebih dari 300 ton per hari selama periode pasca-Idulfitri. Hal ini menunjukkan peningkatan volume sampah mencapai kurang lebih 40 persen dari kondisi biasanya.

Untuk mengatasi penumpukan material di Tempat Pembuangan Sementara (TPS), Pemkot Cimahi harus mengambil kebijakan penyesuaian jadwal operasional. Kebijakan ini diambil sebagai respons cepat terhadap situasi darurat volume sampah.

Wakil Wali Kota Cimahi, Adhitia Yudisthira, menjelaskan bahwa penanganan darurat ini memerlukan pengorbanan dalam jadwal rutin pengangkutan. Langkah ini diambil untuk memastikan sampah tidak menumpuk terlalu lama di lingkungan warga.

"Untuk proses clean up sampah di TPS, pihaknya terpaksa mengorbankan jatah ritase 2 mingguan sebanyak 370 Ton," ujar Adhitia Yudisthira.

Pengorbanan jatah ritase mingguan tersebut merupakan upaya strategis untuk membersihkan TPS yang kelebihan kapasitas akibat lonjakan sampah pasca-Lebaran. Total 370 ton material harus segera diolah.

Langkah ini menegaskan komitmen Pemkot Cimahi dalam menjaga kebersihan lingkungan kota meskipun dihadapkan pada lonjakan volume sampah musiman yang cukup tinggi. Evaluasi sistem penanganan sampah pasca-libur besar pun perlu segera dilakukan.