KABARWARTA.ID - Dunia saat ini tengah dihantui ancaman krisis energi global menyusul memanasnya ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang telah berlangsung selama tiga pekan.
Konflik geopolitik tersebut menyebabkan terganggunya jalur distribusi energi vital melalui Selat Hormuz, yang merupakan rute krusial bagi pasokan minyak dari kawasan Teluk ke berbagai negara.
Dampaknya, kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) melanda sejumlah negara, memicu kenaikan harga seiring dengan meroketnya harga minyak mentah dunia. Dilansir dari Al Jazeera, kenaikan harga BBM dilaporkan terjadi di 95 negara.
Data Global Petrol Prices menunjukkan bahwa lonjakan harga bensin menyebar luas, terutama terasa tajam di negara-negara Asia dan negara berkembang yang sangat bergantung pada impor energi.
Meskipun demikian, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah belum berencana menaikkan harga atau membatasi penyaluran BBM bersubsidi dalam waktu dekat.
"Tidak ada, enggak ada, jangan diganggu dulu," ujar Purbaya saat dimintai keterangan di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, pada Rabu (25/3).
Purbaya menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak mentah dunia masih berada di kisaran US$74 per barel, atau hanya selisih US$4 dari asumsi makro APBN 2026 sebesar US$70 per barel. Menurutnya, kondisi ini belum cukup kuat untuk mendorong perubahan kebijakan BBM bersubsidi.
"Masih terlalu dini dari harga minyak baru US$74. Even untuk mengambil tindakan saja masih terlalu cepat, baru meleset US$4 dari US$70 ini," jelas Purbaya mengenai situasi terkini.
Menanggapi keputusan ini, Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menyoroti bahwa Indonesia memiliki cadangan BBM nasional yang ditetapkan selama 21 hari, ditambah dengan produksi domestik sekitar 400 ribu barel per hari.