KABARWARTA.ID - Konglomerat teknologi ternama, Elon Musk, membuat gebrakan tak terduga dengan menawarkan diri menalangi gaji petugas Badan Keamanan Transportasi Amerika Serikat (TSA). Langkah ini diambil sebagai respons terhadap krisis anggaran pemerintah federal yang telah berlangsung lama.

Penawaran ini disampaikan oleh Musk pada hari Sabtu (21/3) lalu, di tengah situasi di mana para petugas TSA berpotensi tidak menerima gaji untuk kali kedua dalam kurun waktu enam bulan terakhir. Situasi ini terjadi akibat terhentinya pendanaan federal yang masih belum menemukan titik terang.

Dilansir dari Reuters pada Minggu (22/3), kebuntuan anggaran yang melibatkan Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) sebagai lembaga induk TSA kini telah memasuki minggu kelima. Dampaknya dirasakan langsung oleh para petugas di lapangan.

Para petugas keamanan bandara kini menghadapi ancaman tidak menerima gaji penuh, meskipun mereka tetap harus menjalankan tugas pengamanan negara. Kondisi ini diperparah dengan antrean pemeriksaan yang seringkali mengular hingga berjam-jam di berbagai bandara di AS.

Dalam sebuah pernyataan yang diunggahnya melalui platform X, Musk menegaskan kesediaannya untuk turun tangan. "Saya ingin menawarkan untuk membayar gaji personel TSA selama kebuntuan pendanaan ini yang berdampak negatif pada kehidupan banyak warga Amerika di bandara di seluruh negeri," ujar Elon Musk.

Hingga berita ini diturunkan, pihak DHS, TSA, maupun perwakilan resmi dari Elon Musk belum mengeluarkan tanggapan resmi terkait tawaran kontroversial tersebut. Situasi ini masih menunggu konfirmasi lebih lanjut.

Di sisi lain, industri penerbangan dan kelompok terkait perjalanan telah menyuarakan kekhawatiran serius. Mereka memperingatkan bahwa tingkat ketidakhadiran (absensi) dari sekitar 50 ribu petugas keamanan bandara berpotensi meningkat tajam, terutama saat memasuki akhir pekan.

Data resmi dari pemerintah federal menunjukkan bahwa rata-rata gaji tahunan yang diterima oleh seorang petugas TSA berada di kisaran US$61 ribu. Sebagai bentuk kepedulian, sejumlah bandara dilaporkan telah menggalang dana dan menerima donasi untuk membantu petugas selama penutupan sebagian pemerintah ini.

Sementara itu, negosiasi alot antara pihak-pihak terkait masih terus berlanjut di Senat AS. Pemimpin Mayoritas Senat, John Thune, memberikan sinyal positif mengenai kemajuan perundingan. "Pemimpin Mayoritas Senat John Thune menyebut perbedaan pandangan antarpartai mulai menyempit, namun kesepakatan final belum tercapai," ujarnya.