KABARWARTA.ID - Pergerakan harga minyak dunia terpantau mengalami koreksi pada awal perdagangan hari Jumat, tanggal 27 Maret. Penurunan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, secara resmi mengumumkan penundaan serangan terhadap fasilitas energi milik Iran selama periode sepuluh hari ke depan.
Keputusan jeda serangan tersebut merupakan bagian integral dari upaya negosiasi yang sedang berlangsung untuk mencapai kesepakatan guna mengakhiri konflik yang tengah memanas antara kedua negara. Langkah diplomatik ini memberikan sedikit kelegaan bagi pasar komoditas global.
Dilansir dari Reuters, harga minyak mentah jenis Brent mengalami pelemahan sebesar 90 sen atau setara 0,8 persen, membawanya bertengger di level US$107,11 per barel. Sementara itu, harga West Texas Intermediate (WTI) juga ikut terkoreksi.
WTI melemah sebanyak 83 sen atau 0,88 persen, sehingga menetap di level US$93,65 per barel pada sesi perdagangan tersebut. Pelemahan ini berhasil memangkas kenaikan harga yang sempat terjadi pada sesi perdagangan sebelumnya.
Penurunan harga ini kontras dengan lonjakan tajam yang terjadi sehari sebelumnya, di mana Brent sempat naik 5,7 persen dan WTI menguat 4,6 persen. Kenaikan hari sebelumnya dipicu oleh kekhawatiran pasar akan eskalasi konflik militer yang lebih luas di Timur Tengah.
Meskipun demikian, jika dilihat secara perbandingan mingguan, harga Brent diperkirakan akan mencatat penurunan pertama kalinya dalam enam pekan terakhir. Sementara itu, WTI diproyeksikan akan melemah untuk minggu kedua secara berturut-turut.
Presiden Trump menjelaskan bahwa jeda serangan ini adalah bagian dari proses perundingan damai dengan pihak Teheran. Ia juga mengungkapkan bahwa Iran telah menunjukkan iktikad baik dengan mengizinkan sepuluh kapal tanker minyak melintasi jalur Selat Hormuz.
Meskipun terjadi sedikit pelonggaran, situasi geopolitik di kawasan tersebut masih dinilai memiliki risiko yang sangat tinggi oleh para analis pasar energi. Pentagon dilaporkan tetap mempertahankan pengerahan ribuan pasukannya di Timur Tengah sebagai langkah antisipatif.
Perang yang sedang berlangsung antara Iran melawan agresi AS dan Israel telah memberikan dampak signifikan terhadap rantai pasokan minyak global. Diperkirakan sekitar 11 juta barel minyak per hari terdampak langsung oleh ketegangan ini.