Jakarta – Perusahaan riset kecerdasan buatan (AI) OpenAI kini memegang predikat perusahaan privat paling bernilai di dunia. Namun, kesuksesan gemilang ini ternyata tidak serta merta disambut baik oleh semua pihak di masa awal. Satya Nadella, CEO Microsoft, baru-baru ini mengungkapkan bahwa Bill Gates, salah satu pendiri Microsoft, sempat meragukan keputusan strategis investasi besar-besaran perusahaan ke OpenAI pada tahun 2019.
Awal Investasi yang Dipenuhi Keraguan
Pada tahun 2019, Microsoft menginvestasikan dana sebesar USD 1 miliar (sekitar Rp 15,5 triliun) ke OpenAI. Investasi ini dilakukan saat OpenAI masih berstatus nirlaba. Dalam sebuah wawancara di kanal YouTube TBPN, Satya Nadella mengenang momen tersebut. "Ingat kalau ini awalnya nonprofit, dan aku pikir Bill (Gates) bahkan bilang, ‘Yah, Anda akan membakar miliaran dolar ini’," ungkap Nadella.
Meskipun mendapat peringatan tersebut, Nadella dan tim Microsoft tidak gentar. Ia mengakui bahwa proses persetujuan investasi sebesar itu memerlukan jalur yang tepat dan persetujuan dewan direksi. Namun, Nadella merasa cukup mudah untuk meyakinkan banyak pihak mengenai pentingnya bidang AI, terlepas dari risiko yang menyertainya. "Kami memiliki toleransi risiko yang agak tinggi, dan kami berkata, ‘Kami ingin mencoba ini,’" tegasnya.
Visi Strategis Microsoft dan Perkembangan Pesat OpenAI
Pada tahun 2019, Microsoft melihat kemitraan dan investasi di OpenAI sebagai langkah krusial untuk memperkuat posisinya di ranah AI dan mempromosikan kemampuan layanan cloud Azure. Namun, Nadella mengakui bahwa tidak ada yang bisa memprediksi fondasi kokoh yang diletakkan oleh investasi awal tersebut. Alhasil, Microsoft terus meningkatkan investasinya hingga mencapai total USD 13 miliar (setara Rp 212 triliun).
"Jika dilihat ke belakang, siapa yang akan menyangka? Saya tidak menginvestasikan satu miliar dolar dengan mengatakan, ‘Oh ya, ini akan menjadi investasi yang menguntungkan seratus kali lipat,’" ujar Nadella, menggambarkan betapa besar nilai yang dihasilkan dari keputusan tersebut.
Keuntungan Finansial dan Strategis yang Signifikan
Microsoft mulai merasakan keuntungan finansial yang substansial dari investasinya. Pada bulan Oktober, setelah OpenAI melakukan restrukturisasi, Microsoft mendapatkan 27% saham di perusahaan tersebut, yang bernilai sekitar USD 135 miliar (Rp 2.272 triliun). Lebih dari sekadar keuntungan finansial, Microsoft juga memperluas kerja samanya dengan OpenAI, meskipun melepaskan eksklusivitas cloud-nya. Kesepakatan baru memungkinkan OpenAI untuk membeli layanan Azure secara bertahap senilai USD 250 miliar.