Jakarta – PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) membantah keras pernyataan dari PT Agrinas Pangan Nusantara yang mengklaim bahwa pabrikan kendaraan niaga di dalam negeri tidak memberikan harga khusus untuk pembelian dalam jumlah besar atau borongan. IAMI menegaskan bahwa mereka selalu menyediakan skema harga spesial bagi konsumen yang melakukan pembelian unit secara borongan.

IAMI: Pembelian Borongan Pasti Dapat Harga Lebih Baik

Vice President Director PT IAMI, Anton Rusli, menyatakan bahwa tidak mungkin Isuzu mematok harga satuan untuk pembelian skala besar. Menurutnya, diskon dan harga spesial adalah hal yang lumrah diberikan dalam transaksi borongan.

"Kalau bicara tambahan dan kasih harga spesial, pasti bisa. Kalau beli banyak, pasti dikasih harga lebih baik," ujar Anton Rusli saat ditemui di Juanda, Jakarta Pusat, Kamis malam (26/2/2026). Ia menambahkan, "Kalau kita ditanya harganya berapa, ya kita punya harganya sendiri. Kalau mau beli banyak apa dapat diskon? Ya tentu dapat diskon."

Anton Rusli menjelaskan bahwa setiap pabrikan memiliki struktur biaya dan kalkulasi harga jual yang berbeda. Oleh karena itu, nominal harga tidak bisa disamakan secara umum. Namun, ia memastikan bahwa konsumen tidak perlu khawatir mengenai harga jika melakukan pembelian borongan di Isuzu. "Intinya kalau harga, itu tergantung structure cost-nya masing-masing lah ya. Itu pasti jawabannya pasti berbeda-beda itu. Kami kalau ditawarkan harga, kami punya harganya," jelasnya.

Latar Belakang Pernyataan Agrinas Pangan Nusantara

Sebelumnya, Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, mengungkapkan kekecewaannya terhadap produsen pickup lokal. Menurutnya, pihaknya sejak awal mengincar pembelian pickup dengan skema borongan untuk mendapatkan harga yang lebih murah dibandingkan pembelian satuan.

Namun, Joao Angelo mengklaim bahwa sebagian besar produsen pickup di Indonesia tidak dapat mengakomodasi permintaan tersebut. Hal ini mendorong Agrinas Pangan Nusantara untuk memilih opsi impor pickup dari India, seperti Mahindra dan Tata Motors, demi efisiensi biaya.

"Yang menjadi isu utama kan kami membeli dalam jumlah yang besar. Jadi kami menawarkan membeli secara bulk, secara gelondongan. Seharusnya kami diberikan harga lebih ekonomis agar lebih efektif dan bisa memenuhi anggaran," ujar Joao Angelo. Ia menambahkan, "Tapi sampai akhir, ternyata sebagian besar produsen lokal, mungkin karena dominasi sekian puluh tahun, mereka cenderung merasa membeli bulk tidak ada bagi mereka, bisanya per unit, makanya tidak fair juga bagi saya."