KABARWARTA.ID - Kekhawatiran energi meningkat di Australia seiring meluasnya kelangkaan bahan bakar di berbagai wilayah negara tersebut. Tercatat sekitar 470 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dilaporkan mengalami kehabisan stok setidaknya satu jenis bahan bakar.

Menanggapi situasi ini, Pemerintah Australia segera menyiapkan langkah strategis melalui rapat darurat kabinet nasional. Perdana Menteri Anthony Albanese dijadwalkan mengadakan pertemuan lanjutan dengan para pemimpin negara bagian dan teritori pekan depan.

Pertemuan darurat tersebut bertujuan utama untuk memperkuat koordinasi respons secara nasional di tengah tekanan krisis energi global. "Koordinasi itu penting agar kita memiliki konsistensi secara nasional," ujar Perdana Menteri Albanese di parlemen, dilansir dari ABC News.

Krisis ini dipicu oleh eskalasi harga energi global, terutama setelah Iran memblokade Selat Hormuz, jalur vital yang menangani sekitar 20 persen distribusi minyak dunia. Dampak langsungnya adalah kenaikan biaya energi yang mulai mengganggu sektor industri dan berpotensi memicu inflasi harga barang.

Menteri Keuangan Jim Chalmers mengindikasikan bahwa proyeksi inflasi dan harga minyak sebelumnya kini harus ditinjau ulang. Pemerintah kini meminta dilakukan pemodelan ulang skenario yang berpotensi lebih berat dampaknya terhadap perekonomian domestik.

Kelangkaan BBM terlihat nyata di beberapa wilayah, termasuk Victoria, Queensland, dan New South Wales. Di Victoria saja, 109 SPBU kehabisan setidaknya satu jenis bensin, sementara di Queensland 47 SPBU kekurangan solar dan 32 lainnya tanpa bensin reguler.

Pemerintah setempat menekankan bahwa masalah ini lebih disebabkan oleh lonjakan permintaan masyarakat daripada kekurangan pasokan total. Oleh karena itu, otoritas mengimbau warga untuk menahan diri dari praktik pembelian panik demi menjaga stabilitas distribusi.

Menteri Energi Chris Bowen mengumumkan bahwa pemerintah telah berhasil mengambil langkah mitigasi dengan menggantikan enam kapal tanker minyak yang sebelumnya batal menuju Australia. Selain itu, tiga kapal tanker tambahan juga berhasil diamankan untuk menjamin pasokan.

Sebagai bagian dari respons terkoordinasi internasional, Australia telah memanfaatkan cadangan energi daruratnya. Cadangan ini setara dengan sekitar enam hari pasokan bensin dan lima hari pasokan solar nasional.