KABARWARTA.ID - Harga minyak mentah dunia kembali menunjukkan kenaikan signifikan, menembus level US$103 per barel pada hari ini, 26 Maret. Lonjakan ini terjadi sebagai respons pasar terhadap sinyal bahwa harapan akan terciptanya perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran mulai memudar.

Keputusan Iran untuk masih meninjau proposal damai yang diajukan oleh Amerika Serikat menjadi pemicu utama volatilitas harga terbaru. Situasi ini mengindikasikan negosiasi untuk mengakhiri ketegangan di Timur Tengah berjalan lambat dan penuh ketidakpastian.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara eksplisit menyatakan bahwa negaranya tidak memiliki niat untuk segera mengadakan pembicaraan guna mengakhiri konflik yang melibatkan invasi AS dan Israel. Konflik ini sendiri diketahui pecah sejak tanggal 28 Februari lalu.

Di sisi lain, respons dari pihak Washington juga menunjukkan sikap yang tegas dan tidak kompromistis terhadap perkembangan situasi saat ini. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan posisi Presiden AS Donald Trump.

"Presiden AS Donald Trump akan memukul Iran lebih keras jika Teheran gagal menerima kenyataan mereka telah 'dikalahkan secara militer'," tegas Karoline Leavitt.

Perkembangan harga pada Kamis (26/3) menunjukkan minyak mentah berjangka Brent mengalami kenaikan sebesar US$1,13, atau setara 1,1 persen, mencapai US$103,35 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga naik US$1,08, atau 1,2 persen, menyentuh angka US$91,40 per barel.

Kenaikan ini merupakan pembalikan tren setelah sehari sebelumnya, pada Rabu (25/3), harga Brent dan WTI sempat mengalami koreksi penurunan hingga menyentuh level di bawah US$100 per barel.

Ekonom senior dari NLI Research Institute, Tsuyoshi Ueno, memberikan pandangan mengenai sentimen pasar yang berubah drastis. Menurutnya, optimisme pasar terhadap kemungkinan gencatan senjata antara AS, Israel, dan Iran kini telah hilang.

"Optimisme terkait gencatan senjata telah memudar," kata Tsuyoshi dilansir dari Reuters.