Jakarta – PT Agrinas Pangan Nusantara membantah tudingan bahwa keputusan mereka untuk mengimpor 105 ribu unit pikap dari India dilakukan secara mendadak. Perusahaan menegaskan bahwa langkah ini diambil setelah serangkaian negosiasi dengan berbagai pabrikan komersial di Indonesia, namun tidak mencapai kesepakatan yang memuaskan.

Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, menyatakan pihaknya telah proaktif menjalin komunikasi dengan produsen pikap di Indonesia, baik dari Jepang maupun China. "Bahwa kami tidak memberikan kesempatan ke produsen lokal, itu tidak benar. Karena kita terbuka, kita juga transparan dan semua produsen kita berikan kesempatan yang sama," ujar Joao dalam keterangan resminya, Selasa (24/2).

Pertemuan tersebut, menurut Joao, melibatkan nama-nama besar seperti Foton, Suzuki, dan Daihatsu. Namun, negosiasi terganjal beberapa faktor krusial, terutama terkait harga dan kapasitas produksi yang tidak sesuai dengan skala kebutuhan perusahaan.

Implikasi Kapasitas Produksi Lokal

Joao secara spesifik menyoroti isu terkait Suzuki Carry dan Daihatsu Gran Max. Ia menjelaskan bahwa kapasitas produksi unit 4×2 dari kedua model tersebut saat ini terbatas pada kisaran 100-120 ribu unit per tahun. Angka ini, menurutnya, sebagian besar telah terserap oleh kebutuhan pasar lain, termasuk program-program pemerintah di sektor pertanian yang kian berkembang pesat berkat subsidi yang diberikan.

"Pertimbangannya, umpamanya untuk Gran Max dan Carry, sekarang kan 4×2-nya hanya mampu memproduksi sebanyak 100-120 ribu unit per tahun dan sekarang sebagian besar dipakai MBG, sekarang pertanian kita juga tumbuh karena pemerintah memberikan subsidi ke petani," jelas Joao.

Skema Pembelian dalam Jumlah Besar

PT Agrinas Pangan Nusantara berencana melakukan pembelian dalam volume sangat besar, yakni ratusan ribu unit. Untuk mencapai harga yang lebih terjangkau dan efektif dari sisi anggaran, perusahaan mengusulkan skema pembelian dalam jumlah besar atau "ball-ballan" (gelondongan).

"Kalau masalah tidak ada kesepakatan, wajar dalam bisnis. Yang menjadi isu utama kan kami membeli dalam jumlah yang besar. Jadi kami menawarkan membeli secara ball atau gelondongan. Seharusnya kami diberikan harga lebih ekonomis agar lebih efektif dan memenuhi anggaran," papar Joao.