KABARWARTA.ID - Harga bahan bakar minyak (BBM) mengalami lonjakan signifikan di 95 negara sebagai dampak langsung dari konflik yang terjadi di Timur Tengah. Kenaikan ini terjadi dalam kurun waktu hampir satu bulan terakhir, seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

Lonjakan harga BBM ini dipicu oleh terganggunya distribusi minyak dan gas di pasar internasional. Gangguan utama berpusat pada jalur Selat Hormuz, yang merupakan rute krusial bagi pasokan energi dari kawasan Teluk.

Dilansir dari Al Jazeera, data dari Global Petrol Prices menunjukkan bahwa kenaikan harga bensin meluas ke berbagai belahan dunia. Dampak kenaikan ini terasa paling tajam di negara-negara Asia dan negara berkembang yang memiliki ketergantungan impor energi tinggi.

Di Amerika Serikat sendiri, dampak kenaikan sudah mulai terasa signifikan. Harga bensin reguler tercatat naik sekitar 20 persen, bergerak dari rata-rata US$2,94 per galon pada Februari menjadi US$3,58 per galon.

Bahkan, di beberapa negara bagian di AS, harga bensin telah melampaui ambang batas US$4 per galon, dengan California mencatat harga di atas US$5 per galon, level tertinggi dalam dua tahun terakhir.

Asia menjadi kawasan yang paling merasakan beban konflik ini karena tingginya ketergantungan pada Selat Hormuz sebagai arteri utama pasokan energi global. Negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan dinilai sangat rentan terhadap gejolak ini.

Jepang mengimpor sekitar 95 persen kebutuhan minyaknya dari kawasan Teluk, sementara Korea Selatan mengimpor sekitar 70 persen pasokannya melalui jalur tersebut. Kedua negara mulai mengambil langkah mitigasi darurat untuk menjaga stabilitas pasar energi.

"Jepang meminta fasilitas cadangan minyaknya bersiap jika sewaktu-waktu harus melepas stok strategis," ujar seorang sumber berita, merujuk pada kesiapan Jepang menghadapi gangguan pasokan.

Sementara itu, Korea Selatan mengambil langkah kebijakan domestik dengan memberlakukan batas harga maksimum untuk bensin dan solar. Kebijakan ini merupakan yang pertama kali diterapkan oleh Korea Selatan dalam kurun waktu 30 tahun terakhir.