KABARWARTA.ID - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menyampaikan rincian alokasi dana untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) di tingkat daerah. Menurutnya, setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) rata-rata mendapatkan suntikan dana sebesar Rp1 miliar setiap bulannya.
Dana fantastis ini dialokasikan secara spesifik untuk menggerakkan denyut perekonomian lokal melalui implementasi program MBG yang menyasar pemenuhan gizi masyarakat.
Dadan Hindayana memberikan ilustrasi dampak ekonomi dari program tersebut, terutama di wilayah dengan cakupan SPPG yang luas seperti Jawa Barat. Ia menyebutkan potensi perputaran uang yang sangat besar terjadi di daerah tersebut.
"Jadi, 1 SPPG rata-rata akan menerima uang Rp1 miliar per bulan. Kalau di Jawa Barat sudah ada 5.000 SPPG, itu artinya uang di Jawa Barat beredar Rp5 triliun per bulan," ujar Dadan dalam keterangannya pada Kamis (19/3), dikutip Detikfinance.
Ia melanjutkan bahwa jika program ini telah berjalan selama dua setengah bulan, dampaknya terhadap perputaran uang di Jawa Barat sudah mencapai angka signifikan. Hal ini menunjukkan efektivitas penyaluran dana dalam memicu aktivitas ekonomi lokal.
"Menurut Dadan, dengan program sudah berjalan 2,5 bulan, uang yang beredar di Jawa Barat sudah mencapai sekitar Rp11-12 triliun," tambahnya, menegaskan bahwa inilah tujuan utama pergerakan ekonomi di setiap daerah.
Mengenai mekanisme penyaluran, Dadan menjelaskan bahwa sebagian besar anggaran BGN disalurkan langsung menuju daerah melalui sistem virtual account. Mekanisme ini menghubungkan dana pusat dengan 25.574 SPPG yang tersebar di seluruh Indonesia.
"Uang Badan Gizi Nasional, 93 persen itu langsung disalurkan dari KPPN melalui virtual account. Masuk di virtual account seluruh SPPG di seluruh Indonesia yang jumlahnya sudah 25.574," tutur Dadan.
Penyaluran melalui virtual account ini diklaim menjamin pemerataan distribusi dana ke berbagai wilayah, memastikan tidak ada daerah yang terlewat dalam menerima suntikan modal operasional program.