KABARWARTA.ID - Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, menyoroti eratnya ikatan emosional dan sejarah yang menyatukan masyarakat Maluku dan Maluku Utara, menegaskan bahwa batasan administratif tidak mampu memisahkan keduanya. Penegasan ini disampaikan saat beliau menghadiri acara buka puasa bersama yang diselenggarakan oleh DPP Front Pemuda Muslim Maluku (FPMM) di Jakarta pada Sabtu, 14 Maret 2026.

Acara silaturahmi tersebut dihadiri oleh berbagai tokoh penting, termasuk Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, serta Wakil Gubernur Maluku, Abdullah Vanath. Kehadiran para pemimpin dan tokoh dari kedua provinsi tersebut menjadi saksi nyata dari persatuan yang telah mengakar kuat di wilayah Timur Indonesia.

Dalam sambutannya, Hendrik Lewerissa menekankan bahwa pertemuan ini merupakan cerminan dari nilai luhur yang sudah lama menjadi identitas kolektif masyarakat di kepulauan rempah tersebut. Hal ini menunjukkan komitmen bersama untuk menjaga fondasi keharmonisan di tengah keberagaman.

Semangat persaudaraan yang dikenal dengan filosofi hidup "orang basudara" diyakini merupakan warisan leluhur yang wajib dijaga kelestariannya. Menurut Gubernur Maluku, nilai ini menjadi landasan utama bagi terwujudnya keharmonisan di antara masyarakat Maluku dan Maluku Utara.

"Secara historis dan budaya, Maluku dan Maluku Utara adalah satu kesatuan sebagai anak-anak negeri kepulauan rempah," ujar Hendrik Lewerissa, menekankan kesamaan akar budaya kedua provinsi tersebut.

Gubernur Lewerissa juga memanfaatkan momentum bulan Ramadan ini untuk mengajak seluruh warga Maluku yang berdomisili di perantauan agar terus mempererat tali silaturahmi. Selain itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga nilai-nilai toleransi antarumat beragama dalam kehidupan sehari-hari.

Apresiasi tinggi disampaikan oleh Gubernur Maluku kepada Ketua Umum DPP FPMM, Umar Ohoitenan atau yang dikenal sebagai Umar Kei. Apresiasi ini diberikan atas inisiatif penting dalam menyelenggarakan kegiatan yang dinilai sangat bermakna tersebut.

Menurut pandangan beliau, kegiatan buka puasa bersama ini melampaui sekadar seremoni keagamaan biasa. "Acara ini bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan ruang konsolidasi bagi keluarga besar masyarakat Maluku dan Malut di wilayah Jabodetabek," kata Hendrik Lewerissa.

Turut hadir dalam pertemuan penting tersebut sejumlah tokoh penting lainnya, termasuk mantan Gubernur Murad Ismail dan Wakil Ketua DPRD Maluku, Asis Sangkala dan Fauzan Rahawarin. Kehadiran mereka memperkuat representasi masyarakat Maluku dan Malut dalam forum tersebut.