KABARWARTA.ID - Suasana di Stasiun Bandung menjelang Hari Raya Idulfitri selalu dipenuhi energi yang khas. Deru langkah kaki penumpang yang tergesa-gesa menjadi musik latar di tengah hiruk pikuk persiapan mudik.
Tas-tas berukuran besar tampak ditarik dengan susah payah oleh para pemudik yang ingin segera mencapai tujuan mereka. Pengumuman jadwal keberangkatan silih berganti terdengar, menandakan puncak musim perjalanan tahunan telah tiba.
Di antara keramaian tersebut, terlihat sosok Rian Cahya yang bergerak lincah melayani kebutuhan para penumpang. Ia sigap membantu siapa saja yang memerlukan tenaga ekstra untuk membawa barang bawaan mereka.
Rian telah mendedikasikan hidupnya untuk profesi sebagai porter di stasiun ini selama hampir delapan belas tahun lamanya. Sejak tahun 2006, ia telah menjadi saksi bisu ribuan kisah perjalanan yang datang dan pergi dari kota Bandung.
Rutinitas berat yang ia jalani setiap hari tidak hanya soal mengangkat beban fisik, tetapi juga menahan beban emosional yang terus membayangi. Ia terbiasa dengan berbagai macam cerita dan beban barang penumpang.
Namun, di balik dedikasi profesionalnya selama musim puncak seperti ini, ada satu hal mendasar yang harus ia korbankan setiap tahunnya. Hal tersebut adalah kesempatan untuk turut serta dalam momen kebersamaan keluarga.
"Sudah hampir 18 tahun Rian menjalani profesi ini," tulis artikel tersebut, menggarisbawahi lamanya pengabdiannya di tengah kesibukan stasiun.
Kisah Rian mencerminkan dilema banyak pekerja sektor jasa yang mengabdi saat orang lain merayakan hari besar. Ia terus menunda keinginan mendalamnya untuk kembali ke kampung halaman demi memenuhi tanggung jawab pekerjaannya.
"Sejak 2006, ia akrab dengan beratnya barang bawaan penumpang, sekaligus kisah-kisah perjalanan yang datang dan pergi," demikian disebutkan mengenai perjalanan kariernya yang panjang di Stasiun Bandung.