KABARWARTA.ID - Nilai tukar rupiah menunjukkan performa positif pada pembukaan perdagangan Selasa (26/3) pagi. Mata uang kebanggaan Indonesia ini terpantau berada di posisi Rp16.971 per dolar AS saat memulai aktivitas pasar.

Dilansir dari CNN Indonesia, angka tersebut mencerminkan penguatan sebesar 26 poin dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya. Secara persentase, kenaikan tipis ini setara dengan 0,15 persen bagi mata uang Garuda.

Kondisi pasar uang di kawasan Asia terpantau bergerak cukup dinamis dengan mayoritas mata uang berada di zona merah. Yen Jepang dan baht Thailand masing-masing mengalami pelemahan sebesar 0,19 persen dan 0,38 persen.

Di sisi lain, beberapa mata uang regional lainnya justru berhasil mencatat penguatan pada pagi ini. Yuan China terpantau naik 0,14 persen, peso Filipina menguat 0,37 persen, dan won Korea Selatan terapresiasi tipis 0,01 persen.

Pergerakan mata uang negara maju juga terlihat bervariasi dalam menghadapi dominasi dolar AS. Euro, poundsterling Inggris, serta franc Swiss kompak melemah, sementara dolar Australia dan dolar Kanada terpantau masih mampu menguat.

Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memberikan pandangannya terkait penguatan rupiah kali ini. Ia menilai sentimen positif datang dari ekspektasi pasar terhadap penurunan harga minyak mentah global.

"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS oleh menurunnya harga minyak mentah dunia di tengah harapan apabila selat Hormuz akan kembali bisa segera dilewati menyusul pernyataan Trump yang akan mengumumkan dalam waktu dekat, beberapa negara yang ikut mengamankan jalur itu," ujar Lukman Leong.

Situasi geopolitik internasional dan keamanan jalur perdagangan energi menjadi faktor kunci yang diperhatikan oleh para pelaku pasar. Hal ini memberikan ruang bagi rupiah untuk bergerak lebih stabil di tengah fluktuasi ekonomi global.

"Hari ini, saya memperkirakan rupiah akan bergerak di rentang Rp16.900 per dolar AS hingga Rp17.050 per dolar AS," kata Lukman Leong.