KABARWARTA.ID - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa secara terbuka menyayangkan munculnya narasi yang mengklaim bahwa perekonomian Indonesia telah memasuki fase resesi. Pernyataan ini disampaikan oleh Purbaya saat berada di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta Pusat, pada hari Senin (16/3).

Menurutnya, saat ini terdapat banyak "noise" atau informasi yang tidak akurat mengenai kondisi ekonomi nasional yang beredar luas di publik. Ia secara spesifik mengarahkan kritik pada suara-suara yang muncul di platform media sosial TikTok.

"Sekarang banyak 'noise', banyak yang bilang ekonomi sudah resesi," ujar Purbaya.

Purbaya menegaskan bahwa klaim-klaim negatif tersebut banyak berasal dari pihak-pihak yang mengaku sebagai ekonom namun kurang memiliki landasan keilmuan yang memadai. Ia mendesak pihak-pihak tersebut untuk merujuk pada data yang valid dan mempelajari ilmu ekonomi dengan benar.

"Di TikTok tuh (yang ngomong perekonomian Indonesia hancur) banyak. Coba lihat data yang betul, suruh belajar yang betul," ucap Purbaya.

Ia menambahkan bahwa jika memang terdapat penurunan signifikan dalam perekonomian, pemerintah tentu siap mengambil langkah perbaikan yang diperlukan. Namun, Purbaya meyakini kondisi perekonomian saat ini masih dalam jalur positif, sehingga dasar tuduhan resesi tersebut menjadi kabur.

Purbaya menduga bahwa motif di balik penyebaran sentimen negatif tersebut mungkin berkaitan dengan kepentingan pribadi para penyebarnya. "Dia cuman menimbulkan sensasi negatif aja, menimbulkan sentimen negatif ke ekonomi. Mungkin dia terlambat kemarin beli saham, jadi pengen beli di bawah," ujar Purbaya.

Ketika ditanya mengenai urgensi untuk mengadakan diskusi langsung dengan para kritikus tersebut, nada bicara Purbaya tampak meninggi, menunjukkan sedikit kegeraman. Ia meragukan efektivitas berdebat dengan individu yang dianggap minim latar belakang pendidikan ekonomi formal.

"Mereka (ekonom di TikTok) enggak pernah belajar ekonomi, ga pernah kuliah ekonomi. Di mana debatnya? Saya debat sama orang pinggir jalan yang ga jelas jadinya. Orang (di) warung-warung masih jago baca-baca karena dia punya kemauan," ujar Purbaya.