KABARWARTA.ID - Pulau Kharg, sebuah lokasi strategis di Teluk Persia, memegang peran vital sebagai pusat utama bagi perekonomian Iran, menangani sekitar 90 persen dari total ekspor minyak mentah negara tersebut. Hal ini menjadi sorotan internasional setelah Amerika Serikat melancarkan serangan militer ke fasilitas di pulau itu pada Jumat pekan lalu, 13 Maret.
Meskipun serangan yang dilancarkan oleh Negeri Paman Sam tersebut diklaim tidak menyasar fasilitas yang berkaitan langsung dengan perdagangan minyak, Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah melontarkan ancaman serius. Ancaman tersebut ditujukan jika Teheran terus menghalangi kapal yang berupaya melintasi Selat Hormuz.
Pulau Kharg sendiri merupakan daratan karang yang luasnya diperkirakan sepertiga dari Manhattan, Amerika Serikat, dan lokasinya berjarak sekitar 25 kilometer dari pesisir Iran. Lokasi ini kerap dijuluki sebagai "Pulau Terlarang" oleh warga setempat karena diberlakukannya pengawasan militer yang sangat ketat.
Sejak lama, Pulau Kharg telah diakui sebagai tulang punggung ekonomi Iran, sebuah fakta yang sudah tercatat dalam dokumen penting masa lalu. Dilansir dari dokumen CIA tahun 1984, fasilitas di sana disebut sebagai infrastruktur paling vital dalam sistem perminyakan Iran dan operasionalnya sangat menentukan kesejahteraan ekonomi negara.
Bahkan, seorang pemimpin oposisi Israel sempat menyoroti potensi kehancuran terminal tersebut terhadap stabilitas politik dan ekonomi Iran. "Penghancuran terminal tersebut dapat melumpuhkan ekonomi Iran dan menjatuhkan rezim," sebut Yair Lapid.
Setiap hari, jutaan barel minyak mentah dari ladang-ladang utama Iran, seperti Ahvaz, Marun, dan Gachsaran, dialirkan melalui jaringan pipa menuju pulau ini untuk diekspor. Dilansir dari Reuters, Iran saat ini menyuplai sekitar 4,5 persen kebutuhan minyak global, dengan produksi harian mencapai 3,3 juta barel minyak mentah dan 1,3 juta barel kondensat serta cairan lainnya.
Pantauan citra satelit oleh TankerTrackers.com menunjukkan bahwa sejak konflik antara AS dan Israel melawan Iran memanas, selalu terlihat aktivitas pengiriman minyak menggunakan kapal tanker yang berangkat dari Pulau Kharg. Bahkan, catatan dari JP Morgan menunjukkan bahwa menjelang serangan AS-Israel, volume ekspor dari Kharg sempat meningkat mendekati rekor tertinggi.
Analis perdagangan global dari Kpler memperkirakan kapasitas penyimpanan minyak di Pulau Kharg mencapai sekitar 30 juta barel, dengan perkiraan 18 juta barel minyak mentah tersimpan di lokasi tersebut saat ini. Jika fasilitas minyak Kharg benar-benar hancur, dampaknya akan sangat besar, terutama bagi China sebagai pembeli utama minyak Iran.
"Jika fasilitas minyak Kharg benar-benar hancur, Iran bisa membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga lebih dari setahun untuk membangunnya kembali," kata Muyu Xu, analis dari Kpler. Muyu menambahkan bahwa Iran akan menghadapi kesulitan besar dalam proses rekonstruksi karena masih terjerat sanksi Barat yang membatasi akses terhadap dana, teknologi, dan keahlian yang dibutuhkan.