KABARWARTA.ID - Bank Indonesia (BI) telah menyiapkan langkah strategis untuk mengawal stabilitas nilai tukar rupiah selama masa libur panjang Lebaran 2026. Upaya ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi terhadap potensi gejolak pasar keuangan global yang dipicu oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Situasi geopolitik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel menjadi fokus utama otoritas moneter dalam menjaga ketahanan ekonomi domestik. Dilansir dari CNN Indonesia, bank sentral memastikan pengawasan akan tetap berjalan optimal meski aktivitas perkantoran di dalam negeri sedang libur.

Deputi Gubernur BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa meskipun pasar keuangan domestik berhenti beroperasi sementara, perdagangan rupiah di pasar internasional tetap aktif. Pergerakan di luar negeri tersebut perlu diwaspadai karena fluktuasinya tetap memberikan pengaruh nyata terhadap kondisi ekonomi nasional.

"Meskipun pasar domestik sedang tutup, aktivitas pasar di luar negeri tetap berjalan sehingga kami harus terus berjaga-jaga selama 24 jam penuh untuk memantau pergerakan nilai tukar dolar terhadap rupiah melalui mekanisme pasar Non-Deliverable Forward atau NDF," ujar Destry Damayanti.

Kewaspadaan ini dinilai sangat krusial mengingat eskalasi konflik di Timur Tengah telah memicu ketidakpastian tinggi di pasar global. Kondisi tersebut memicu tren pelarian modal asing dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, menuju aset-aset yang dianggap lebih aman.

Berdasarkan data pada Maret 2026, investasi portofolio di Indonesia mencatatkan aliran modal keluar bersih (net outflows) mencapai US$1,1 miliar. Angka ini menunjukkan pembalikan arah yang signifikan jika dibandingkan periode Januari hingga Februari 2026 yang masih mencatat aliran masuk bersih sebesar US$1,6 miliar.

"Meningkatnya risiko premium akibat tingginya ketidakpastian global menyebabkan hampir seluruh mata uang di negara-negara berkembang mengalami tekanan yang cukup berat," jelas Destry Damayanti.

Hingga 16 Maret 2026, nilai tukar rupiah tercatat berada di level Rp16.985 per dolar AS, atau mengalami pelemahan sebesar 1,29 persen dibandingkan posisi akhir Februari. Pelemahan ini ternyata menjadi fenomena umum yang melanda berbagai negara di kawasan Asia.

"Situasi yang terjadi menunjukkan bahwa kita di kawasan regional ini memang sedang menghadapi tantangan dan permasalahan ekonomi yang serupa," kata Destry Damayanti.