KABARWARTA.ID - Kenaikan harga plastik kemasan telah menjadi sorotan utama setelah para pedagang menyampaikan keluhan serius mengenai lonjakan biaya operasional mereka. Fenomena ini dilaporkan terjadi secara meluas di berbagai wilayah Indonesia, menimbulkan beban baru bagi sektor ritel kecil.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), angkat bicara mengenai isu kenaikan harga plastik yang mencapai angka fantastis. Sorotan ini muncul setelah Zulhas melakukan kunjungan mendadak ke Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Saat menyambangi Pasar Minggu bersama Menteri Perdagangan Budi Susanto untuk memantau stabilitas harga bahan pangan, keluhan mengenai harga plastik menjadi isu yang tidak terhindarkan. Kedua menteri tersebut mendapati bahwa kenaikan ini bukan sekadar kenaikan biasa, melainkan sebuah lonjakan tajam.
Zulhas mengonfirmasi bahwa permasalahan kenaikan harga plastik ini dirasakan oleh para pelaku usaha di seluruh daerah. Ia menekankan bahwa besaran kenaikan tersebut sangat signifikan dan mengkhawatirkan kondisi pasar secara keseluruhan.
"Ini memang tidak hanya pedagang sini, hampir seluruhnya memang mengeluhkan soal harga plastik. Naiknya nggak kira-kira. Ini bukan naik, melonjak," kata Zulhas di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (28/3) dilansir dari Detikfinance.
Penyebab utama lonjakan harga plastik ini menurut Zulhas berakar dari situasi geopolitik global. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah disebut sebagai pemicu utama mahalnya bijih plastik.
"Saya dengar bijih plastiknya naiknya luar biasa. Karena plastik itu kan dari BBM kan. Ya nanti kita akan bahas secara khusus, kok tiba-tiba naiknya begitu tinggi. Kita akan undang beberapa pihak terkait," imbuhnya.
Para pedagang di pasar mengeluhkan bahwa kenaikan harga ini sudah terasa bahkan sebelum perayaan Idulfitri tiba. Kenaikan harga plastik untuk berbagai ukuran dilaporkan mencapai Rp6.000 per pak.
Sebagai ilustrasi, harga plastik yang sebelumnya stabil di angka Rp17 ribu per pak, kini harus dibeli pedagang dengan harga mencapai Rp23 ribu per pak. Hal ini secara langsung menggerus margin keuntungan yang mereka peroleh.