KABARWARTA.ID - Militer Israel kembali melancarkan serangan terkoordinasi di tengah ketegangan regional yang semakin memanas mengenai fasilitas energi. Serangan terbaru ini terjadi pada Jumat (20/3) dan dilaporkan menyasar wilayah Iran.
Secara spesifik, serangan ini dikabarkan mengenai infrastruktur vital di ladang gas terbesar milik Iran, South Pars. Langkah ini menandai peningkatan signifikan dalam konfrontasi antara kedua negara.
Juru bicara militer Israel mengonfirmasi dimulainya gelombang serangan baru tersebut. "IDF baru saja memulai gelombang serangan terhadap infrastruktur rezim Iran di jantung Teheran," ujar juru bicara militer Israel, dilansir dari Reuters.
Serangan ini terjadi hanya sehari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara eksplisit meminta Israel menahan diri dari tindakan serupa. Trump memberikan penekanan khusus agar Israel tidak menyerang infrastruktur energi Iran.
Mengenai perintah tersebut, Trump sempat menyatakan keyakinannya kepada publik. "Saya bilang kepadanya, 'jangan lakukan itu', dan dia tidak akan melakukannya," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa operasi di South Pars dilakukan secara independen. Ia mengklaim serangan tersebut dilakukan tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada Washington.
Serangan terhadap South Pars menjadi titik kritis karena ini adalah kali pertama infrastruktur energi utama Iran menjadi sasaran langsung serangan. Hal ini berpotensi menimbulkan gangguan besar pada pasokan energi global.
Presiden Trump kembali mengeluarkan peringatan keras melalui platform media sosial Truth. Ia menegaskan tidak akan ada lagi serangan lanjutan ke South Pars kecuali Iran melakukan serangan balasan terhadap Qatar.
Trump juga menyampaikan ancaman serius mengenai eskalasi konflik yang lebih luas. Ia memperingatkan bahwa Amerika Serikat siap menghancurkan fasilitas tersebut jika situasi semakin memburuk.