KABARWARTA.ID - Sebuah prediksi menarik dalam perhitungan kalender Hijriah menunjukkan potensi fenomena astronomis yang jarang terjadi dalam waktu dekat. Umat Islam di Indonesia berpotensi untuk melaksanakan ibadah puasa Ramadan sebanyak dua kali dalam rentang satu tahun kalender Masehi.
Peristiwa unik ini diperkirakan akan terjadi pada tahun 2030, menjadikannya momen yang patut diperhatikan oleh para ahli falak dan umat secara umum. Meskipun Ramadan terjadi dua kali, perayaan Idulfitri diprediksi hanya akan jatuh satu kali dalam tahun Masehi tersebut.
Penjelasan mendalam mengenai fenomena ini disampaikan oleh seorang pakar dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN menjadi sumber utama yang menguraikan bagaimana pergeseran siklus bulan ini memungkinkan terjadinya dua kali Ramadan.
Thomas Djamaluddin, peneliti tersebut, memberikan rincian waktu spesifik mengenai kapan momen langka ini akan terwujud. Prediksi ini didasarkan pada perhitungan pergerakan bulan yang menjadi dasar penentuan awal dan akhir bulan Hijriah.
"Tahun 2030 dua kali Ramadan (Januari dan Desember), 1 kali Idul fitri (4 Februari)," kata Thomas Djamaluddin saat diwawancarai oleh wartawan pada hari Jumat, 20 Maret 2026.
Kutipan tersebut mengindikasikan bahwa Ramadan pertama di tahun 2030 diperkirakan akan dimulai pada bulan Januari. Sementara itu, Ramadan kedua akan menyusul di penghujung tahun kalender Masehi yang sama, yaitu bulan Desember.
Lebih lanjut, Thomas Djamaluddin menjelaskan bahwa pergeseran ini terjadi karena sifat kalender Hijriah yang berbasis peredaran bulan (sekitar 354 hari). Hal ini menyebabkan tanggal-tanggal penting dalam Islam bergeser sekitar 10 hingga 12 hari lebih awal setiap tahun Masehi.
Idulfitri, yang menandai berakhirnya Ramadan, diproyeksikan jatuh pada tanggal 4 Februari 2030 dalam perhitungan yang disampaikannya. Hal ini menegaskan bahwa meskipun ada dua periode puasa, Idulfitri tetap hanya sekali dalam hitungan tahun Masehi tersebut.
Fenomena Ramadan ganda ini sesungguhnya pernah terjadi sebelumnya dan akan terulang kembali di masa depan, menunjukkan siklus alam yang konsisten dalam penanggalan Islam. Peristiwa ini menjadi pengingat akan dinamika waktu dalam perhitungan kalender berdasarkan fase bulan.