KABARWARTA.ID - Kabar duka menyelimuti dunia konservasi Indonesia setelah dua ekor anak harimau Benggala yang masih berusia delapan bulan dilaporkan mati di Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo. Kematian satwa langka tersebut menimbulkan pertanyaan besar di kalangan publik dan pemerhati satwa.

Setelah beberapa waktu dilakukan observasi mendalam dan proses penyelidikan oleh pihak berwenang, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat akhirnya memberikan keterangan resmi. Informasi ini penting untuk memberikan kejelasan mengenai nasib tragis kedua satwa tersebut.

Kedua harimau malang tersebut diberi nama Huru dan Hara, yang merupakan bagian dari spesies Panthera tigris tigris. Kematian mereka menjadi sorotan karena usia mereka yang masih sangat muda dan status konservasi spesiesnya.

Pihak BBKSDA Jawa Barat telah melakukan serangkaian pemeriksaan medis menyeluruh terhadap bangkai kedua harimau tersebut. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengidentifikasi secara pasti faktor penyebab yang mengakibatkan kematian mendadak.

Hasil dari pemeriksaan medis dan proses nekropsi (autopsi hewan) telah menunjukkan kesimpulan yang jelas mengenai penyebab kematian. Temuan ini kemudian disampaikan kepada publik sebagai bagian dari transparansi penanganan konservasi.

"Berdasarkan hasil pemeriksaan medis dan nekropsi, kedua satwa dinyatakan mati akibat infeksi Feline Panleukopenia Virus (FPV)," ujar perwakilan BBKSDA Jabar.

Dijelaskan lebih lanjut, Feline Panleukopenia Virus merupakan salah satu penyakit yang sangat berbahaya dan sangat menular. Virus ini dikenal memiliki tingkat fatalitas yang tinggi, terutama menyerang hewan dalam famili Felidae.

Penyakit ini terbukti sangat mematikan ketika menyerang populasi satwa pada usia muda. Infeksi FPV menjadi kesimpulan akhir penyebab kematian dua anak harimau Benggala di Kebun Binatang Bandung tersebut.

Kematian Huru dan Hara menjadi pengingat pentingnya protokol kesehatan dan vaksinasi yang ketat di fasilitas konservasi satwa. Pihak kebun binatang diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan pasca insiden ini.