KABARWARTA.ID - Perdagangan perdana pasca libur panjang Idulfitri ditandai dengan sentimen negatif di Bursa Efek Indonesia (BEI), di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung mengalami koreksi cukup dalam. Pada pembukaan hari Rabu (25/3), IHSG terpantau turun signifikan sebesar 0,45 persen atau setara dengan 32,11 poin.

Data yang dihimpun dari RTI Business pada pukul 09.00 WIB menunjukkan bahwa IHSG berada di posisi akhir di level 7.074. Meskipun sempat dibuka sedikit lebih tinggi di 7.084 dan sempat mencicipi level tertinggi 7.097, tekanan jual yang masif segera mengambil alih kendali pergerakan harga.

Tekanan jual ini menyebabkan indeks berbalik arah dan bahkan sempat menyentuh titik terendah sesi awal perdagangan di level 6.068. Kondisi pasar menunjukkan dominasi saham yang melemah dibandingkan yang menguat pada awal sesi pembukaan.

Secara agregat, tercatat sebanyak 295 saham mengalami pelemahan harga pada pembukaan tersebut. Sementara itu, hanya 151 saham yang berhasil mencatatkan penguatan, dan sisanya, 250 saham, bertahan stagnan tanpa perubahan harga.

Aktivitas transaksi pada awal sesi menunjukkan volume perdagangan mencapai 2,65 miliar saham, dengan total nilai transaksi tercatat sebesar Rp1,59 triliun dalam 92.465 kali transaksi. Kapitalisasi pasar secara keseluruhan di bursa saat itu berada di angka Rp12.522,10 triliun.

Menariknya, terdapat perbedaan signifikan dalam aliran dana investor asing; pasar secara keseluruhan mencatat penjualan bersih (net sell) sebesar Rp679,10 miliar. Namun, di pasar reguler, investor asing justru mencatatkan pembelian bersih minoritas sebesar Rp155,35 miliar.

Perbedaan aliran dana ini disebabkan oleh aktivitas penjualan bersih yang dominan terjadi di pasar negosiasi dan tunai, yang tercatat mencapai Rp834,45 miliar. Hal ini mengindikasikan adanya pergeseran strategi jual beli di segmen perdagangan tertentu.

Dari sisi partisipasi investor, investor domestik masih memegang peranan utama dalam menjaga likuiditas pasar, dengan kontribusi sekitar 69,23 persen dari total volume transaksi. Investor asing hanya menyumbang 30,77 persen dari pergerakan volume.

Dalam hal nilai transaksi total, kontribusi investor domestik mencapai 52,37 persen, sementara investor asing menyumbang 47,63 persen dari total nilai transaksi sekitar Rp24,5 triliun. Ini menunjukkan bahwa sentimen jual asing cukup signifikan dalam menekan indeks.