KABARWARTA.ID - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan pandangan mengenai kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menyusul keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Keputusan ini diambil meskipun negara-negara tetangga telah melakukan penyesuaian harga.

Purbaya mengklaim bahwa APBN Indonesia saat ini berada dalam posisi yang kuat untuk menyerap guncangan akibat fluktuasi harga minyak global. Menurutnya, kebijakan menahan laju kenaikan harga BBM akan terus dipertahankan tanpa menimbulkan kerugian signifikan pada postur APBN.

Hal ini disampaikan Purbaya saat memberikan sambutan pada acara pelantikan pejabat di lingkungan Kementerian Keuangan pada hari Jumat, 27 Maret. Dalam kesempatan tersebut, ia menyoroti keberhasilan menjaga harga BBM tetap stabil bagi masyarakat.

"Kalau negara tetangga kita, BBM sudah naik nggak kira-kira kan? Di sini, dengan kepemimpinan orang-orang ini, kita bisa menjaga harga BBM di level yang sekarang, tanpa membahayakan APBN," ujar Purbaya.

Ia menekankan bahwa kemampuan pemerintah dalam menahan kenaikan harga BBM sangat bergantung pada fungsi APBN sebagai peredam gejolak atau shock absorber. Mekanisme ini menjadi sangat vital ketika harga minyak dunia menunjukkan tren kenaikan signifikan.

"APBN adalah shock absorber. Ketika harga minyak dunia naik, kita serap di sini. Gara-gara itu BBM nggak naik," katanya.

Langkah fiskal yang diambil pemerintah ini dipercaya juga membawa dampak positif terhadap stabilitas ekonomi secara keseluruhan. Selain itu, kebijakan ini turut meningkatkan persepsi publik terhadap kinerja pemerintah.

Purbaya menambahkan bahwa kebijakan fiskal yang terukur telah berperan penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap stabilitas ekonomi nasional. Hal ini tercermin dari peningkatan popularitas pemimpin negara.

"Sekarang popularitas pemerintah naik kencang sekali ke atas, popularitas presiden utamanya. Itu akan menambah komponen stabilitas di ekonomi kita," ujarnya.