KABARWARTA.ID - Pasar logam mulia domestik menunjukkan tren koreksi signifikan pada perdagangan awal pekan di masa pasca-libur Lebaran. Berdasarkan data perdagangan Senin (23/3/2026), harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengalami penurunan yang cukup tajam dibandingkan hari sebelumnya.

Penurunan ini membawa harga dasar emas Antam untuk ukuran 1 gram berada di level Rp2,843 juta. Angka tersebut menunjukkan pelemahan sebesar Rp50 ribu jika dibandingkan dengan posisi pada Minggu (22/3/2026) yang sempat menyentuh level Rp2,893 juta per gram.

Koreksi harga tidak hanya terjadi pada nilai jual, tetapi juga merambah ke sektor pembelian kembali atau buyback. Pergerakan harga terbaru ini dilansir dari data resmi situs Logam Mulia Antam yang diperbarui pada pukul 09.13 WIB.

"Harga buyback emas Antam hari ini tercatat berada di level Rp2,560 juta per gram, yang berarti mengalami penurunan sebesar Rp50 ribu dibandingkan posisi sebelumnya," tulis keterangan resmi pihak Logam Mulia.

Situasi ini menyebabkan selisih atau spread antara harga jual dan harga beli kembali kini berada di kisaran Rp283 ribu per gram. Kondisi tersebut menjadi poin penting bagi para investor dalam menghitung margin keuntungan serta risiko likuiditas aset mereka.

Penurunan harga terpantau merata di seluruh pecahan emas yang ditawarkan oleh Antam, mulai dari ukuran terkecil hingga terbesar. Emas ukuran 0,5 gram kini dipasarkan pada harga Rp1,471,500, sementara untuk ukuran 5 gram dibanderol senilai Rp13,990 juta.

Untuk investor skala besar, harga emas ukuran 10 gram kini turun ke level Rp27,925 juta. Sedangkan untuk ukuran paling besar, yakni batangan 100 gram, saat ini berada di posisi Rp278,512 juta per batang mengikuti tren pelemahan global.

Selain di butik resmi Antam, penurunan harga ritel juga terlihat pada platform penjualan lain seperti Pegadaian. Di sana, harga emas Galeri24 tercatat berada di level Rp2,920 juta per gram, sementara emas merek UBS dipatok lebih mahal pada harga Rp2,933 juta per gram.

"Perbedaan harga antarproduk tersebut dipengaruhi secara teknis oleh kebijakan masing-masing produsen, standar cetakan yang digunakan, hingga jalur distribusi setiap merek," tulis penjelasan yang dilansir dari situs Sahabat Pegadaian.