KABARWARTA.ID - Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, telah melontarkan peringatan serius mengenai potensi krisis energi global yang bisa menjadi yang terparah dalam beberapa dekade terakhir. Eskalasi konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah menjadi pemicu utama kekhawatiran ini.

Menurut Birol, situasi yang berkembang saat ini digambarkan sebagai kondisi yang "sangat parah". Peringatan ini disampaikan menyusul ketegangan yang meningkat antara Amerika Serikat-Israel dan Iran.

Dalam sebuah pidato yang disampaikannya di National Press Club, Fatih Birol membandingkan guncangan energi saat ini dengan krisis minyak bersejarah yang pernah terjadi di masa lalu. Perbandingan ini menyoroti skala gangguan pasokan yang terjadi.

Birol mencatat bahwa skala gangguan pasokan energi global yang terjadi saat ini telah melampaui dampak gabungan dari dua krisis besar yang melanda pada era 1970-an. Ini menunjukkan tingkat keparahan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa dekade.

"Banyak dari kita yang mengingat dua krisis minyak berturut-turut pada tahun 1970-an. Pada saat itu, di setiap krisis, dunia kehilangan sekitar lima juta barel per hari, jika keduanya digabungkan, menjadi 10 juta barel per hari," ujar Birol.

Data terbaru yang diungkapkan menunjukkan bahwa defisit pasokan minyak global saat ini jauh lebih signifikan dibandingkan periode kelam tersebut. Dampak yang dirasakan oleh stabilitas ekonomi dunia saat ini dianggap jauh lebih masif.

"Hingga hari ini, kita telah kehilangan 11 juta barel per hari, jadi ini lebih besar daripada gabungan dua guncangan minyak utama sebelumnya," tegasnya.

Lebih lanjut, Kepala IEA tersebut menekankan bahwa krisis energi ini adalah isu global yang tidak mengenal batas geografis. Ia menyampaikan peringatan bahwa "tidak ada negara yang akan kebal" terhadap dampak luas dari krisis energi global yang sedang berlangsung.

Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump dan Iran saling melancarkan ancaman balasan seiring perang memasuki minggu keempat. Trump menuntut agar Republik Islam segera membuka kembali Selat Hormuz yang terblokir.