KABARWARTA.ID - Kematian dua anak harimau Benggala bernama Huru dan Hara di Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo) telah memicu reaksi keras dari berbagai pihak. Sorotan tajam kini diarahkan pada mekanisme pengelolaan dan perawatan satwa di fasilitas konservasi tersebut.
Menindaklanjuti peristiwa duka tersebut, Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, Ono Surono, memutuskan untuk melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi objek wisata yang kini terpaksa ditutup sementara oleh otoritas terkait.
Kunjungan mendadak ini dilakukan untuk menelusuri akar permasalahan dan mengevaluasi secara langsung kondisi terkini di Kebun Binatang Bandung. Sidak ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran utuh mengenai implementasi standar operasional di sana.
Dalam proses inspeksi tersebut, Ono Surono menemukan sejumlah fakta baru yang mengindikasikan bahwa penanganan oleh Kementerian Kehutanan melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat belum berjalan secara optimal. Hal ini menjadi temuan signifikan pasca insiden tragis tersebut.
Ono Surono secara spesifik menyoroti isu pemenuhan kebutuhan dasar satwa, terutama terkait asupan nutrisi. Ia menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap sistem penyediaan pakan bagi seluruh penghuni kebun binatang.
"Berkaca dari kejadian Huru dan Hara, jika asupan makanan terhadap satwa lainnya tidak dapat dipenuhi dengan baik, seharusnya satwa-satwa di Bandung Zoo ini dipindahkan dahulu ke kebun binatang lain," ujar Ono Surono.
Terbongkar! Alasan Sebenarnya BGN Hentikan Sementara SPPG Milik Hendrik Irawan di Bandung Barat
Pernyataan ini menegaskan pandangan bahwa jika fasilitas dan manajemen internal terbukti tidak mampu menjamin kesejahteraan satwa, opsi relokasi darurat ke tempat yang lebih memadai harus segera dipertimbangkan.
Temuan ini menjadi landasan kuat bagi DPRD untuk mendorong perbaikan tata kelola yang lebih bertanggung jawab dan transparan di Kebun Binatang Bandung ke depannya. Evaluasi ini diharapkan menjadi titik balik perbaikan manajemen konservasi satwa di Jawa Barat.