KABARWARTA.ID - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyampaikan kekhawatiran serius mengenai dampak berkepanjangan konflik di kawasan Timur Tengah terhadap kinerja ekspor Indonesia. Menurutnya, jika situasi geopolitik tersebut tidak segera mereda, pertumbuhan sektor ekspor nasional bisa melambat signifikan.
Perlambatan ini diperkirakan akan terlihat dengan angka pertumbuhan ekspor yang tidak seoptimal pencapaian tahun sebelumnya. Hal ini diungkapkan Budi Santoso saat memberikan keterangan pers di Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, pada hari Jumat (27/3).
"Kalau kondisinya perang enggak selesai-selesai, ya bisa dampaknya ke ekspor kita. Paling tidak ekspor kita bisa pertumbuhannya bisa lebih rendah daripada tahun lalu. Tapi mudah-mudahan cepat selesai," kata Budi Santoso.
Data menunjukkan bahwa pada tahun 2025, nilai ekspor Indonesia menuju kawasan Timur Tengah mencapai US$9,87 miliar, setara dengan sekitar Rp167,49 triliun berdasarkan asumsi kurs Rp16.970 per dolar AS. Angka tersebut merepresentasikan sekitar 3,49 persen dari total ekspor nasional Indonesia ke seluruh dunia.
Kontributor utama dalam nilai ekspor ke kawasan tersebut didominasi oleh Uni Emirat Arab (UEA) yang menyumbang sekitar 40 persen dari total perdagangan. Selanjutnya, Arab Saudi menempati urutan kedua dengan kontribusi 29 persen, diikuti oleh Iran yang menyumbang sekitar 2,5 persen atau setara US$250 juta.
Mendag menjelaskan bahwa dampak konflik saat ini lebih terasa pada aspek operasional dan logistik, bukan pada penurunan permintaan pasar secara langsung. Kenaikan harga minyak global serta penutupan beberapa jalur pelayaran telah memaksa distribusi barang menjadi lebih panjang dan mahal.
"Dampaknya sebenarnya lebih banyak ke logistik, alat angkutnya. Karena memang harga minyak kan naik. Jadi pengaruhnya ke logistik dan juga salah satunya rute pengalihan. Jadi kan semakin panjang sekarang karena ada beberapa port yang ditutup," jelas Budi Santoso.
Meskipun permintaan dari pasar Timur Tengah masih menunjukkan tren positif, peningkatan biaya transportasi ini menjadi beban tambahan bagi para pelaku usaha di Indonesia. "Permintaan ekspor ke Timur Tengah memang masih jalan. Ya, cuman itu tadi, cost-nya mungkin lebih tinggi untuk biaya transportasinya," tambah beliau.
Di tengah tantangan ini, pemerintah tengah mengidentifikasi peluang alternatif untuk menjaga momentum pertumbuhan ekspor. Salah satunya adalah memanfaatkan tren kenaikan harga komoditas unggulan seperti crude palm oil (CPO) dan batu bara yang berpotensi mendongkrak nilai ekspor secara keseluruhan.