KABARWARTA.ID - Situasi geopolitik global, khususnya konflik yang mengganggu jalur distribusi di kawasan Timur Tengah, kini membuka peluang besar bagi Indonesia di sektor industri pupuk. Negara-negara besar dunia dilaporkan mulai intensif mencari pasokan pupuk dari dalam negeri Indonesia sebagai alternatif.
Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Rahmad Pribadi, menyatakan bahwa kondisi ini secara otomatis menempatkan Indonesia pada posisi yang sangat strategis sebagai eksportir urea. Gangguan pada distribusi global, terutama yang melewati Selat Hormuz, telah mengurangi kapasitas pasokan urea dunia secara signifikan.
Menurut Rahmad Pribadi, Indonesia memiliki posisi yang berbeda karena merupakan negara pengekspor urea. Ia menjelaskan bahwa pasokan dari Selat Hormuz yang memiliki kapasitas 10 juta ton per tahun kini hilang dari pasar global akibat kemacetan distribusi.
"Indonesia, pupuk Indonesia itu mengekspor antara 1,5 (juta ton) sampai 2 juta ton. Jadi posisi kita untuk pupuk akibat dari geopolitik ini semuanya aman," lanjutnya, menegaskan bahwa posisi ekspor nasional tetap aman meski ada gejolak internasional.
Kondisi ini mendorong banyak negara importir utama untuk melirik Indonesia sebagai sumber pasokan pupuk yang lebih andal. Rahmad Pribadi menyebutkan agenda pertemuan penting yang akan segera dilaksanakan dengan delegasi dari berbagai negara.
"Siang hari ini saya akan bertemu atau melakukan meeting khusus dengan pemerintah India dan dilanjutkan dengan pemerintah Australia dan kemudian macam-macam, semua datang ke sini karena tahu posisi strategis Indonesia hari ini. Di tengah gejolak, itu justru Indonesia bisa jadi penyelamat," ujar Rahmad Pribadi di Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Senin (30/3).
Meskipun India, Australia, dan kawasan Asia Pasifik adalah importir besar urea, Indonesia tetap mengutamakan pemenuhan kebutuhan domestik sebelum meningkatkan kapasitas ekspor. Prioritas utama adalah memastikan ketahanan pangan nasional terpenuhi terlebih dahulu.
"Artinya begini, kalau menggantikan seluruhnya kan enggak bisa, tapi setidaknya Indonesia ini eksportir. Jadi sudah pasti setelah fokusnya dalam negeri, setelah dalam negeri tercukupi, kita akan ekspor," jelasnya mengenai kebijakan ekspor pasca-pemenuhan kebutuhan petani Indonesia.
Lebih lanjut, Rahmad Pribadi memastikan bahwa pasokan pupuk di dalam negeri tetap aman, termasuk untuk bahan baku impor seperti fosfor dan kalium. Ia menegaskan bahwa bahan baku tersebut tidak melewati jalur Selat Hormuz yang kini bermasalah.