KABARWARTA.ID - Pemerintah Amerika Serikat (AS) telah menetapkan jadwal untuk memperkenalkan mata uang dolar baru yang akan membawa perubahan signifikan pada desainnya. Rencananya, pencetakan uang kertas dengan tanda tangan Presiden Donald Trump akan dimulai pada Juni 2026 mendatang.

Langkah awal dalam perubahan ini akan difokuskan pada pencetakan uang kertas pecahan US$100 dengan desain terbaru. Desain baru ini akan menampilkan tanda tangan Trump bersama dengan Menteri Keuangan AS saat itu, Scott Bessent.

Perubahan ini mencatat sejarah baru karena ini adalah kali pertama seorang presiden yang masih menjabat akan menandatangani mata uang resmi negara tersebut. Hal ini menjadi penanda penting dalam sistem keuangan Amerika Serikat.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengaitkan penerbitan uang dolar baru ini dengan momentum peringatan 250 tahun kemerdekaan AS. Menurutnya, ini juga merefleksikan kondisi ekonomi negara saat ini.

"Tidak ada cara yang lebih kuat untuk mengakui pencapaian bersejarah negara kita dan Presiden Donald J Trump selain melalui uang dolar AS yang memuat namanya," ujar Bessent, dilansir dari Reuters, Jumat (27/3).

Perubahan paling mencolok adalah penggantian tanda tangan pejabat yang selama ini menjadi bagian standar desain uang kertas. Tanda tangan presiden kini akan secara resmi dicantumkan pada mata uang tersebut.

Rencananya, pencetakan uang kertas baru dengan paraf Trump akan diperluas secara bertahap ke pecahan mata uang lainnya. Uang kertas baru ini diperkirakan membutuhkan waktu beberapa minggu untuk beredar luas dalam sistem perbankan.

Perubahan ini secara resmi mengakhiri tradisi yang telah berlangsung selama 165 tahun, di mana tanda tangan Bendahara AS selalu menghiasi uang kertas sejak pertama kali diterbitkan pada tahun 1861. Bendahara terakhir yang menandatangani adalah Lynn Malerba, yang menjabat di era Presiden Joe Biden.

Saat ini, otoritas moneter masih memproduksi uang kertas yang memuat tanda tangan pejabat sebelumnya, termasuk Menteri Keuangan Janet Yellen dari era Biden dan Bendahara Lynn Malerba.