KABARWARTA.ID - Meskipun prediksi awal kemarau di Jawa Barat akan dimulai pada April mendatang, wilayah Bandung Raya dan sekitarnya diperkirakan masih akan menikmati guyuran hujan sepanjang pekan ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas I Bandung memberikan peringatan dini terkait potensi curah hujan tersebut.
Kondisi cuaca yang masih basah ini disebabkan oleh beberapa dinamika atmosfer yang saling mendukung pembentukan awan konvektif. Faktor-faktor meteorologis ini perlu dicermati oleh masyarakat sebagai antisipasi terhadap potensi dampak cuaca ekstrem lokal.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Teguh Rahayu, menjelaskan bahwa suhu muka laut yang hangat di sebagian besar perairan Indonesia menjadi salah satu pemicu utama. Kehangatan ini secara signifikan meningkatkan suplai uap air yang dibutuhkan untuk pembentukan awan hujan.
Selain itu, kehadiran pola siklonik yang aktif di Samudra Hindia turut berperan besar dalam kondisi atmosfer saat ini. Pola ini menciptakan daerah belokan dan pertemuan angin, atau yang dikenal sebagai konvergensi, tepat di atas wilayah Pulau Jawa.
"Kondisi ini diperkuat oleh aktifnya gelombang atmosfer Kelvin di atas Jawa Barat serta didukung kelembapan udara yang sangat tinggi pada lapisan 850-500 mb (berkisar 30-98%) dan tingkat labilitas atmosfer kategori ringan hingga kuat, yang secara kolektif menjadi pemicu utama meningkatnya potensi pertumbuhan awan konvektif skala lokal yang masif di sebagian besar wilayah Jawa Barat," kata Ayu, sapaan karib Teguh Rahayu, Senin (30/3/2026).
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kelembapan udara yang ekstrem, mencapai 98% pada lapisan tertentu, menjadi faktor kunci yang memungkinkan awan hujan tumbuh secara masif. Tingkat labilitas atmosfer yang ringan hingga kuat juga mendukung proses konveksi tersebut.
Prakiraan ini menunjukkan bahwa potensi hujan ringan hingga lebat masih sangat relevan untuk beberapa hari ke depan di Jawa Barat. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca mendadak yang mungkin terjadi.
Informasi ini penting untuk menjadi pertimbangan dalam perencanaan aktivitas luar ruangan selama periode ini. BMKG terus memantau perkembangan atmosfer untuk memberikan pembaruan data cuaca terkini bagi publik.