KABARWARTA.ID - Konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah kini memberikan dampak signifikan terhadap sektor energi di Asia, khususnya pada pasokan gas alam cair (LNG). Negara-negara di Asia terpaksa mengalihkan fokus energi mereka kembali ke batu bara untuk menjaga stabilitas pasokan domestik.

Peningkatan penggunaan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara ini terjadi seiring dengan melonjaknya harga LNG dan terhambatnya jalur distribusi vital melalui Selat Hormuz. Dilansir dari Reuters pada Kamis (19/3), perusahaan utilitas di berbagai negara Asia mulai mengambil langkah antisipatif ini.

Harga LNG spot di pasar Asia dilaporkan telah melambung hingga dua kali lipat, mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Lonjakan ini dipicu oleh hampir terhentinya distribusi energi melalui Selat Hormuz yang krusial, serta kebijakan penghentian ekspor oleh Qatar.

Qatar sendiri merupakan salah satu eksportir LNG terbesar kedua di dunia, sehingga penghentian ekspornya semakin memperparah krisis pasokan di kawasan Asia. Kondisi ini memaksa negara-negara yang bergantung pada impor energi untuk mencari alternatif segera.

Beberapa negara di Asia Selatan, termasuk Bangladesh dan Pakistan, secara aktif meningkatkan operasi pembangkit listrik berbasis batu bara mereka sebagai respons langsung terhadap krisis pasokan LNG. Pemerintah Bangladesh dilaporkan telah meningkatkan pembangkit listrik berbahan batu bara serta impor listrik berbasis batu bara sepanjang bulan Maret.

Sementara itu, Pakistan berinisiatif untuk menggenjot pemanfaatan sumber energi domestik, termasuk batu bara lokal, guna mengurangi ketergantungan pada LNG yang harganya semakin tidak stabil dan mahal.

Menteri Energi Pakistan, Awais Leghari, mengemukakan perlunya penyesuaian dalam bauran energi nasional saat ini. "Dengan berkurangnya pembangkit berbasis LNG, pembangkit berbahan batu bara domestik dapat meningkatkan produksi, terutama di luar jam puncak," kata Menteri Energi Pakistan Awais Leghari.

Para analis energi memprediksi bahwa gangguan pasokan yang disebabkan oleh ketegangan geopolitik ini akan menekan permintaan LNG di Asia dalam jangka waktu pendek ke depan. Tren penurunan porsi gas alam dalam pembangkit listrik Asia, yang sebelumnya sudah terjadi selama hampir satu dekade akibat peningkatan energi terbarukan, diperkirakan akan semakin dipercepat oleh lonjakan harga ini.

Wood Mackenzie, sebuah konsultan energi, memproyeksikan penurunan signifikan pada pertumbuhan permintaan LNG Asia di tahun 2026 mendatang. Mereka bahkan memangkas proyeksi impor sekitar 5 juta metrik ton, turun dari angka sebelumnya 12,4 juta ton, dengan asumsi gangguan pasokan berlangsung selama dua bulan.