KABARWARTA.ID - Pergerakan penumpang untuk mudik Lebaran 2026 menunjukkan tren signifikan di Pelabuhan Semayang, Balikpapan. Peningkatan ini sebagian besar disebabkan oleh perubahan pilihan moda transportasi oleh masyarakat yang ingin pulang kampung.
Salah satu faktor utama yang mendorong peralihan ini adalah melonjaknya harga tiket pesawat yang tidak terjangkau oleh sebagian calon pemudik. Akibatnya, transportasi laut menjadi alternatif utama yang lebih realistis bagi mereka.
Hal ini terlihat jelas pada kisah Edi (33) dan istrinya, Anita Sari (30), yang terpaksa memilih jalur laut untuk perjalanan mudik mereka menuju Surabaya. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan kondisi ketersediaan dan harga tiket udara yang tersedia.
Pasangan tersebut diketahui harus menghadapi antrean panjang di area dermaga Pelabuhan Semayang sejak hari Rabu, 18 Maret 2026, pukul 10.00 WITA. Mereka telah bersiap menghadapi waktu tunggu yang cukup lama demi bisa menaiki kapal yang dituju.
Edi mengungkapkan bahwa biasanya ia dan istrinya lebih memilih menggunakan pesawat untuk perjalanan mudik tahunan mereka. Namun, situasi kali ini memaksa mereka untuk melakukan penyesuaian rencana perjalanan yang telah disusun.
"Tiket pesawat baru tersedia tanggal 21 Maret, itu sudah lewat Idulfitri. Harganya pun sampai Rp 2,3 juta," ujar Edi, menyoroti kendala utama yang mereka hadapi.
Keterangan Edi ini menggarisbawahi bahwa ketersediaan tiket pesawat yang baru muncul tiga hari setelah Idulfitri, ditambah dengan harga yang mencapai Rp 2,3 juta, membuat opsi udara tidak lagi menjadi pilihan utama.
Situasi ini menunjukkan adanya tekanan signifikan pada infrastruktur transportasi laut selama periode puncak arus mudik tahun 2026. Pelabuhan Semayang menjadi titik krusial bagi mereka yang ingin menyeberang menggunakan kapal laut.
Kenaikan permintaan ini juga dikonfirmasi oleh pantauan di lapangan, yang menunjukkan lonjakan pemudik yang memilih kapal sebagai solusi praktis di tengah keterbatasan opsi transportasi udara.