KABARWARTA.ID - Perusahaan minyak dan gas (migas) raksasa yang berbasis di Amerika Serikat diprediksi akan meraup keuntungan mencapai miliaran dolar menyusul kenaikan tajam harga energi global. Kenaikan ini terjadi seiring dengan eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Kondisi geopolitik yang memanas selama tiga pekan terakhir ini telah memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas pasokan energi dunia dalam kurun waktu sebulan terakhir. Meskipun terjadi krisis, perusahaan migas yang memiliki operasi di luar wilayah Timur Tengah justru menikmati keuntungan dari tingginya harga komoditas minyak.
Dilansir dari Reuters pada hari Jumat (27/3), harga minyak acuan global jenis Brent rata-rata mencapai sekitar US$97 per barel sepanjang bulan Maret. Angka ini menunjukkan lonjakan sebesar 33 persen dibandingkan rata-rata harga di bulan Februari yang berada di kisaran US$69 per barel.
Kenaikan drastis harga Brent ini dipicu oleh pecahnya konflik pada 28 Februari lalu, yang mengakibatkan terhentinya sekitar seperlima dari total pasokan minyak dunia yang biasanya melintasi jalur strategis Selat Hormuz.
Lonjakan harga tersebut secara langsung membuka peluang bagi apa yang disebut sebagai windfall profit bagi perusahaan migas besar AS, seperti Chevron dan Exxon Mobil. Selain itu, perusahaan energi asal Inggris, Shell, juga dilaporkan turut menikmati keuntungan besar dari situasi ini.
Analis senior dari Roth Capital Partners, Leo Mariani, menyatakan bahwa kinerja kuartal pertama tahun 2026 perusahaan-perusahaan migas ini akan menunjukkan peningkatan yang sangat tajam. Hal ini berhubungan langsung dengan tren kenaikan harga energi yang terjadi belakangan ini.
"Kuartal pertama akan menjadi luar biasa bagi perusahaan-perusahaan ini," kata Leo Mariani.
Sebagai dampak lanjutannya, enam orang analis telah merevisi naik proyeksi laba per saham Chevron hingga sekitar 40 persen khusus untuk periode kuartal I-2026. Sementara itu, estimasi laba bersih untuk Shell juga mengalami kenaikan rata-rata sebesar 15 persen.
Chevron, yang memiliki kapasitas produksi harian sekitar 4 juta barel, diperkirakan akan mendapatkan tambahan pendapatan sekitar US$4 miliar hanya dari kenaikan harga yang terjadi di bulan Maret saja. Sementara itu, Exxon Mobil, dengan produksi hampir 5 juta barel per hari, berpotensi meraup pemasukan tambahan sekitar US$5,1 miliar.