KABARWARTA.ID - Momen perayaan Idulfitri di masa lampau memiliki daya tarik yang berbeda bagi masyarakat Garut, jauh sebelum tradisi modern seperti pembagian Tunjangan Hari Raya (THR) menjadi sorotan utama. Keunikan perayaan ini terletak pada festival rakyat yang diadakan secara meriah.

Pada periode tahun 1800-an, masyarakat Garut sangat menantikan datangnya Lebaran karena adanya festival yang menyajikan berbagai pertunjukan hiburan khas daerah. Festival ini menjadi magnet utama yang dinanti-nantikan warga setiap tahunnya.

Salah satu sumber sejarah yang mendokumentasikan kemeriahan ini adalah koran berbahasa Belanda, Bataviaasch Nieuwsblad. Informasi mengenai perayaan tersebut tercatat dalam koran yang terbit pada tanggal 29 September 1888.

Dilansir dari koran tersebut, terdapat sebuah artikel berjudul 'Lebaran di Garut' yang merinci pengalaman seorang jurnalis saat menyaksikan prosesi hari raya di wilayah tersebut. Artikel ini menjadi jendela bagi kita untuk melihat praktik budaya masa lalu.

Jurnalis yang bertugas saat itu secara rinci menceritakan rangkaian acara yang diselenggarakan selama perayaan Idulfitri berlangsung di Garut. Penggambaran tersebut memberikan gambaran jelas tentang atmosfer Lebaran kala itu.

Pusat dari seluruh perayaan rakyat tersebut dipusatkan di Alun-alun Garut, sebuah lokasi strategis yang mudah dijangkau oleh banyak penduduk. Kegiatan ini dimulai sejak hari pertama Idulfitri tiba.

Rangkaian agenda utama yang membuka keseluruhan festival rakyat tersebut adalah sebuah pertunjukan yang spesifik, yaitu adu bagong. Pertunjukan ini menjadi pembuka resmi rangkaian hiburan Lebaran.

"Pesta Rakyat dilaksanakan di Alun-alun Garut, tepatnya di depan Babancong, mulai hari pertama lebaran berlangsung," demikian deskripsi yang tertuang dalam catatan sejarah tersebut.

Lebih lanjut, artikel tersebut juga mencatat bahwa "Agenda pertama dari Pesta Rakyat ini, adalah adu bagong," sebagaimana dicatat dalam laporan Bataviaasch Nieuwsblad.